Riset Asal Naga Jawa sejak 2014, Berasal dari Bahasa Sansekerta

Sebuah maskot dapat mewakili identitas sebuah klub dalam bentuk visual. Maskot juga menjadi ciri khas dari daerah mana klub tersebut berasal. Saat ini, maskot juga bukan lagi hanya perkara identitas.
Rizal SN, Jogja
Dalam sepak bola modern, maskot tim juga bisa menjadi alat branding yang sangat menguntungkan. Bagaimanapun, semakin bagus dan diterimanya sebuah maskot klub, semakin tinggi pula nilai jual dari klub tersebut. Dengan pendekatan seperti itu, tanpa mengurangi identitas aslinya, tak sedikit klub yang kemudian mulai mengenalkan maskot mereka. Salah satunya PSIM Jogja.

Klub yang berdiri 1929 ini sebelumnya lebih dikenal dengan julukan Laskar Mataram. Padahal, jauh sebelum itu, salah satu klub pendiri PSSI itu memiliki julukan Naga Jawa. Namun tidak banyak yang mengenal julukan tersebut. Pun asal usul julukan tersebut disematkan.

LaluDitya Fajar Rizkizha, salah satu tim media PSIM menggali kembali sebutan PSIM tersebut. Berdiskusi dengan Dimas Maulana dari komunitas Bawah Skor yang biasa mengumpulkan arsip-arsip lawas PSIM Jogja. “Risetnya sejak 2014,” beber Rizki kepada Radar Jogja, kemarin (3/7).

Mereka berangkat dari keinginan mengetahui lebih dalam filosofi logo dan julukan tim kesayangannya itu. Selain juga keinginan membranding julukan tim agar lebih mendekatkan dengan fans atau juga suporter. Karena itu dia mulai berpikiran untuk merancang maskot tim. Di samping itu, hal tersebut sejalan dengan hobi dan bidang ilmu yang ditekuninya di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja.

Dari situ, pria yang saat ini menempuh pendidikan S2 di ISI Jogja itu mengetahui bahwa julukan Naga Jawa berasal dari rumusan Candrasengkala atau Sengkalan. Berasal dari tahun lahir PSIM yaitu pada 1860 penanggalan Jawa atau 1929 di tahun Masehi. Tahun tersebut identik dengan Tahun Naga.

Simbol Naga Jawa juga banyak ditemui di gapura dan pintu masuk bangunan Keraton. Seperti di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Tamansari. “Termasuk logo PSIM saat ini juga mengambil filosofi dari Sengkalan,” tuturnya.

Selain riset, pria asal Blunyahrejo, Kota Jogja itu juga meminta pertimbangan manajemen dan sesepuh PSIM. Beberapa julukan selain Naga Jawa sempat ditawarkan, yaitu Satria Mataram, Gatotkaca. dan Perkutut Jawa. Pun dengan meminta pertimbangan fans melalui polling di media sosial. “Beberapa lebih condong ke Satria Mataram, namun sesepuh juga ada yang menyambut positif Naga Jawa,” ungkapnya.

Sementara Satria Mataram tidak berbeda jauh dengan julukan selama ini yaitu Laskar Mataram. Sehingga dia condong membuat Naga Jawa namun dengan menyisipkan semangat kesatria prajurit Mataram. Ia lalu memilah antara gambaran naga Eropa, Tiongkok dan Jawa. Dibandingkan keduanya, Naga Jawa lebih mirip ular pada umumnya, namun memiliki kekhasan pada mahkota dan memiliki gigi taring. “Gambarnya sekitar3 bulan. Sempat melihat contoh naga klasik, atau modern. Sempet khawatir juga kalau naga klasik seperti umumnya di Jogja medeni cah cilik. Lalu jadilah desain saat ini,” bebernya.

Keunggulan dibandingkan maskot tim lainnya, Naga Jawa menurutnya berasal dari hewan mitologi yang mengandung filosofi. Sehingga tidak seperti maskot mainstream umumnya. Meskipun fisik naga namun ia berusaha memasukan watak ksatria di dalamnya. “Pertama dibuat sket dulu, lalu cari referensi pewarnaan di komputer. Di-scan lalu didigitalkan,” paparnya.

Maskot tersebut diberinya nama Raynor. Berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya prajurit yang tangguh. Mengambil dari unsur prajurit Keraton Jogja yang mempunyai watak kstaria. Setelah jadi, sia lalu mencoba mengenalkan di media sosial. Responnya bermacam-macam, namun lebih banyak sisi positifnya. “Memang ada yang bilang mirip buaya. Tapi kalau dibuat persis naga klasik, kalau dibuat boneka akan menyeramkan. Ciri lainnya, Naga Jawa memakai mahkota dan bersayap. Sorot matanya tajam dan mempunyai taring,” imbuhnya.

Selanjutnya dia akan mencoba menyempurnakan desainnya dengan gambar tiga dimensi. Di samping berharap bisa membuat kostumnya agar bisa ditampilkan di lapangan saat PSIM bermain. “Ada rencana juga dibuat merchandise yang sebagian hasilnya bisa untuk pemasukan klub,” tuturnya. (din/ong)