Cerita Desa Penghasil Tembakau Kampanyekan Larangan Merokok di Ruang Publik

Sebagai wilayah penghasil tembakau tak lantas membuat masyarakat Desa Wonolelo identik dengan merokok. Sebaliknya, salah satu desa di Kecamatan Pleret, Bantul ini justru getol mengkampanyekan larangan merokok di ruang publik. Mereka ingin menciptakan lingkungan sehat.
ZAKKI MUBAROK, Bantul
DERETAN kursi di pendopo kantor lurah Desa Wonolelo beberapa waktu lalu hampir semuanya terisi. Beberapa pria paro baya tampak duduk sembari berdiskusi. Tak jarang diskusi santai tersebut diselingi gelak tawa.
Ternyata mereka adalah sejumlah pamong desa. Menariknya, tak ada satu pun di antara mereka yang tampak mengeluarkan bungkus rokok atau menaruhnya di meja seperti agenda pertemuan pada umumnya. Apalagi, menghisapnya. Walaupun diskusi berlangsung cukup lama.

“Pamong sini memang nggak ada yang merokok. Kalau dukuh ada (yang merokok),” ucap Lurah Desa Wonolelo Pujiastuti

Sugiyanta saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu membuka obrolan seputar aktivitas merokok di ruang publik di wilayah Wonolelo sebagai hal tabu. Termasuk di antaranya di kantor desa.

Oleh karena itu, perokok berat yang bertamu di balai desa harus bisa menyesuaikan diri. Harus bisa ngampet merokok. Sebab, tak ada asbak yang disediakan. Walaupun di meja yang terletak di pendopo balai desa sekalipun.

Puji, sapaannya, bercerita kebiasaan positif ini juga berlaku di berbagai ruang publik lainnya. Termasuk di agenda pertemuan di tingkat pedukuhan, RW, bahkan RT. Namun, hingga sekarang gaya hidup sehat ini masih berlaku di tiga dari delapan pedukuhan. Yakni, Purworejo, Bojong, dan Kedungrejo.

Kendati begitu, ketentuan hukum adat ini telah mengakar. Terutama di RT 1 pedukuhan Purworejo. Para perokok berat harus menahan diri. Bila tidak harus siap menerima batunya. Mulai ditegur, hingga dijatuhi sanksi berupa membersihkan musala.

“Di RT 1 memang sudah ada aturan tertulisnya,” ujarnya.

Tak hanya dalam pertemuan formal, ketentuan ini juga berlaku dalam berbagai agenda informal. Seperti tahlilan hingga acara resepsi pernikahan. Bahkan, aturan ini juga berlaku bagi suami lurah sekalipun.

Perempuan kelahiran 9 April 1966 ini bercerita pernah menghadiri acara resepsi pernikahan di Pedukuhan Purworejo bersama suaminya. Sang suami yang notabene perokok berat harus menahan tak menghisap rokok selama berada di lokasi acara.

“Sesampainya di rumah bekah-bekuh mulutnya kecut (karena tak merokok),” kenangnya.

Puji menyebut jumlah penduduk Desa Wonolelo sekitar 5.000 jiwa. Mayoritas berprofesi sebagai petani. Selama musim penghujan mereka menanam padi. Sedangkan pada musim kemarau para petani rutin menanam tembakau.

Pilihan tanaman bahan baku rokok ini bukan tanpa alasan. Sebab, topografi sebagian wilayah Desa Wonolelo berupa perbukitan. Juga, tak ada sungai besar yang melintas. Praktis kondisi ini tak mendukung tanaman palawija seperti wilayah pertanian di Kabupaten Bantul pada umumnya.

“Secara ekonomi lebih menguntungkan tembakau,” tuturnya.

Kendati begitu, kekayaan tanaman tembakau yang melimpah tak menyebabkan image warga Wonolelo lekat sebagai perokok berat. Menurut Puji, ide kampanye larangan merokok di ruang publik lahir di RT 1 pedukuhan Purworejo.

Ide ini muncul setelah warga memperoleh program pembinaan dari Puskesmas setempat pada 2009. Bak gayung bersambut, ide ini direspons positif. Warga setempat mulai mempraktikkan program ini secara bertahap. Mulai tidak menyediakan asbak di ruang pertemuan hingga mencetuskan aturan. “Kemudian Bojong dan Kedungrejo menyusul ikut membuat program,” katanya.

Sebagai lurah, Puji berharap, program ini menyentuh hingga ke seluruh pedukuhan. Toh, manfaat dari program ini untuk kesehatan sangat nyata. Yakni, terciptanya udara yang bersih dan sehat. “Kesehatan balita juga lebih terjamin,” tambahnya. (ila/ong)