Timba Pengalaman di Klub Peraih Emas Olimpiade Bill Kirby

Jogjakarta mempunyai potensi luar biasa di olahraga renang lintasan. Banyak atlet renang muda potensial yang muncul. Namun di Pekan Olahraga Nasional (PON) renang lintasan belum mampu menyumbang medali emas.
RIZAL SETYO NUGROHO, Sleman
Harapan itu muncul salah satunya dari atlet muda berbakatKeanu Tristan Nayoan, 16. Sejak beberapa tahun lalu, pelajar yang saat ini duduk di kelas XI SMA BOPKRI 1 itu selalu mencuri perhatian di kejuaraan renang baik DIJ maupun nasional. Diharapkan, dari generasi Keanu bisa membawa prestasi renang DIJ di tingkat nasional.

Untuk mempersiapkan hal tersebut, Ketua Klub JAQ Aquatics Boyke Dharma mengatakan, mengirim dua atletnya ke Swimcamp di Perth, Australia. Salah satunya adalah Keanu. Yaitu di klub peraih emas olimpiade Bill Kirby. Mereka berada di negeri kanguru tersebut sejak 17 Juni lalu sampai dengan 11 Juli mendatang. “Selain itu juga akan menyempatkan mengikuti perlombaan di sana juga,” ujar Boyke kepada Radar Jogja, kemarin.

Keanu yang diproyeksikan turun di O2SN di Medan dan Popnas mewakili DIJ itu akan banyak menimba ilmu dan pengalaman di negeri gudangnya atlet renang. “Dengan waktu yang panjang, hampir sebulan itu bisa memperbaiki habit atau kebiasaan yang hilang dari anak tersebut,” imbuh pria yang juga legenda renang Jogjakarta tersebut.

Boyke mengatakan, jika DIJ ingin berjaya setidaknya meraih emas di PON 2020, menurutnya sudah harus dimulai sejak saat ini. Dibandingkan renang indah dan polo air, renang lintasan menurutnya mempunyai potensi lebih besar dalam mendulang emas.

“Kami sebenarnya sangat mengharapkan Keanu bisa ke nasional, yang paling mendekati memang Sea Games 2019. Dia bisa masuk dalam tim estafet. Baru di PON nanti bisa ke spesialisasi dia di gaya dada atau kalau mau ganti gaya yang lain,” paparnya.

Untik menjadi atlet sekaliber nasional, terutama di olahraga renang memang menurutnya Keanu punya potensi. Namun syaratnya ia harus mengubah paradigma dan motivasi. Tidak boleh cepat puas, rajin berlatih dan disiplin. “Dia punya potensi yang bagus. Asalkan mindsetnya bisa diubah. Tidak lagi hanya lingkup DIJ tapi sudah harus nasional dan internasional,” paparnya.

Salah satu manfaat swimcamp tersebut, menurut Boyke adalah mengenalkan bagaimana pola latihan, kebiasaan dan pengalaman bertanding dengan atlet negara lain. Sehingga tidak minder dan bisa mengukur kemampuan diri. Apa yang masih kurang dan yang harus diperbaiki.

Ia menyebut, beberapa kendala yang dihadapi pelatih dan atlet renang di DIJ. Diantaranya adalah ketersediaan kolam untuk latihan seperti simulasi pertandingan. Sebab kolam renang yang ada kadang masih bercampur dengan pengunjung umum. Karena itu ia mulai membooking kolam untuk lintasan 50 meter dan 25 meter agar atletnya bisa berlatih.

Selain itu, motivasi atlet yang mudah puas jika telah meraih prestasi di tingkat regional dan nasional. Setelah mendapat bonus, tidak lagi termotivasi untuk menembus kejuaraan internasional maupun even seperti Sea Games maupun Asean Games. “Pandangan cepat puas itu banyak menerpa atlet muda saat ini. Tidak berani untuk bercita-cita sampai level dunia,” terangnya.

Selain itu adalah program latihan dan membagi waktu dengan kewajiban sekolah. Untuk mengatasi hal itu, pihaknya membatasi waktu latihan atlet hanya maksimal 2 jam perhari. Sehingga atlet masih punya waktu untuk belajar dan mengerjakan aktivitas lainnya.

“Menurut saya untuk membentuk seorang atlet yang bagus perlu lima hal. Yaitu habbit atau kebiasaan, teknik, mental, endurence dan dana. Kalau memang dari pemerintah tidak mampu 100 persen, bisa dicarikan sponsor. Pelatih harus asing agar ada transfer ilmu kepada pelatih lokal. Saya yakin DIJ tidak kalah dengan daerah lain,” tuturnya. (din/ong)