Agar Hidup Lebih Berguna, Mereka Kembali Merajut Persaudaraan

Pada 1980-an di Jogja terdapat beberapa kelompok anak muda seumuran anak SMA yangcukup disegani karena keberanian mereka membela harga diri.
Mereka ada karenapencarian jati diri. Ingin diakui keberadaannya. Kini mereka pun sudah berusiamenjelang setengah abad. Apakah mereka masih seperti dulu?
IWA IKHWANUDIN, Jogja
BERTEMPAT di Gedung Persatuan Djamaah Haji Indonesia (PDHI) yang terletak di kawa-sanAlun-Alun Utara Jogjakarta, berkum-pullah puluhan pria paro baya, kemarin (29/6).Mereka tidak lagi muda. Saling ber-pelukan ketika bertemu dengan teman me-reka,melepas kangen. Bertahun-tahun mereka terpisah jarak.

Mereka datang ke lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Berkumpul karena dahulu pa-datahun 1980-an menjadi anggota geng anak muda yang disegani, Joxin. Kelompok anakmu-da ini menjadi penanda zaman bahwa rema-ja berumur belasan selalu mencari jatidiri.

Joxin merupakan kepanjangan Joko Sinting (pria paruh baya yang gila). Gila membe-laharga dirinya. Namun sangat memegang teguh ikatan persaudaraan yang mereka ciptakanwaktu itu.

Menurut salah seorang penggagas Joxzin, biasa disingkat JXZ, Erfi, Joxzin awalnyaadalah perkumpulan bocah yang suka bersepeda.

Mereka sering berkumpul di kawasanKauman Jogja. Kum-pulan anak-anak penyuka ber-sepeda itu dinamai Cethul (ikan kecilyang biasa hidup di salu-ran air).

“Seiring bertambahnya usia kami, lalu kami mampu dibeli-kan motor oleh orang tua, maka kami bekumpul tidak lagi ber-sepeda. Kami berkumpul pakai sepeda motor.Nama Cethul kami ganti menjadi Joxzin. Ngum-pulnya masih sama, di Kauman Jogja,”ujar Erfi yang kini meng-aku sebagai Joxzin Lawas.

Selain Cethul, ada pula kelompok bersepeda Cepethe dan Santana. Jika Cethul menjadi Joxzin, Cepethe bermetamorfosis menjadi Qizruh (QZR). Sedangkan Santana berubah nama menjadi Trah Buthek (TRB). Ketiga geng ini cukup disegani pada 1980-an. Bahkan pihak keamanan meminta agar JXZ dibubarkan pada 1988-an.

“Padahal JXZ itu bukan orga-nisasi resmi yang ada ketuanya, yang ada bendaharanya. Kami cuma kelompok yang suka ber-kumpul agar guyub. Wong dolan dibubarke. Jadi sebenarnya ka-mi tidak pernah bubar. Hanya nggak pernah ketemu saja,” kelakar Erfi.

Dikatakan bahwa acara di Gedung PDHI tersebut sebagai ajang silaturahmi anggotaJoxzin. Mereka kini sudah tersebar ke ma-na-mana. Lebaran dijadikan momen menjalintali silaturah-mi lagi. “Agar menjadi lebih berarti,” kata Erfi.

Erfi mengatakan, Joxzin tercetus di Kauman Jogja. Berdiri dengan tekat satu paseduluran (persaudaraan). Anggotanya pun tidak hanya satu kampung, satu sekolah, atau satu agama.

Sedangkan salah seorang tokoh Joxzin Lawas, Swasto Haskoro mengatakan, berkumpulnyakem-bali Joxzin Lawas tersebut untuk memperpanjang usia. “Semoga kami menjadisemakin menjadi orang yang berguna,” tutur Hasko, sapaan Swasto Haskoro yangkini bertempat tinggal di Denpasar, Bali.

Dikatakan, bahwa kembali berkumpulnya para anggota Joxzin tersebut karenameman-faatkan grup Whatsapp. “Persiapan hanya dua minggu se-belum Ramadan kemarin.Al-hamdulillah banyak yang datang,” kata Hasko.

Sedangkan ketua panitia sila-turahmi Muhammad Rizky mengatakan acara tersebut un-tuk melanjutkan persaudaraan yang pernah terjalin. “Semoga kami menjadi lebih bermakna di sisa usia kami,” ujar Rizky.

Selain keanggotaan JXZ bera-sal dari sejumlah sekolah, juga berasal dari beberapa kampung di Jogja. Seperti Kauman, Suronatan, Kotagede, bahkan ada yang berasal dari Temanggung.

Salah seorang Joxzin Lawas Rohmad Gigix mengatakan bahwa generasinya ingin menjadikan silaturahmi tersebut sebagai embrio untuk hidup lebih baik. Dia prihatin dengan geng anak muda saat ini yang justru dicampuri oleh kepentingan politik. (amd/ga/ong)