RADARJGOAJ.CO.ID – JOGJA – Nuthuk kena thuthuk. Itulah yang dialami pedagang lesehan di kawasan Malioboro. Gara-gara menerapkan harga di atas kewajaran alias nuthuk, mereka kena thuthuk atau mendapat peringatan keras.

Peringatan tersebut diberikan Unit Pelak-sana Teknis (UPT) Malioboro. Langkah yang diambil UPT ini sebagai respons atas unggahan foto nota pembayaran ke media sosial Facebook oleh salah seorang wisa-tawan yang jajan di warung pedagang lesehan itu dua hari lalu.

Setelah menerima laporan tersebut, UPT Malioboro ber-tindak tegas. UPT memberikan hukuman kepada pemilik war-ung lesehan. Selama dua hari, warung lesehan itu ditutup.

Kepala UPT Malioboro Syarif Teguh mengatakan, harga yang tercantum pada nota sangat tidak wajar. “Mereka menaikkan har-ga terlalu tinggi sehingga kami berikan sanksi tersebut,” ujarnya siang kemarin (29/6).

Dalam posting-an oleh wisa-tawan disebutkan harga empat porsi ayam goreng Rp 120 ribu, nasi Rp 8 ribu per porsi, dan nasi goreng Rp 40 ribu per por-si. UPT Malioboro melalui Jo-goboro langsung mengklarifi-kasi ke penjual.

Dikatakan pedagang hanya memasang tarif tak wajar bukan aksi nuthuk seperti pada kasus kebanyakan sebelumnya.”Ada daftar harganya tapi tidak wajar. Jadi, (dalih pedagang itu) bukan nuthuk. (Pembeli) baru tahu harganya setelah selesai makan,” tegas Syarif.

Demi kenyamanan wisatawan, UPT terus melakukan pengawa-san terhadap para pedagang agar tidak memasang tarif secara tak wajar. Hal ini merujuk perintah Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti agar tidak ada aksi nuthuk sehingga tidak merugikan wisatawan.

Syarif menambahkan, UPT akan memberikan sanksi lebih berat jika para pedagang melanggar peringatan tersebut. “Sanksinya bisa melakukan penutupan atau berhenti berjualan,” tegasnya. (ita/amd/ong)