Lebih Khusyuk, Tak Ada Jamaah Tinggalkan Sampah

Beralaskan pasir hitam dan beratapkan langit biru, sekitar lima ribuan umat muslim menunaikan salat Idul Fitri di Gumuk Pasir Parangkusumo, Bantul. Di tengah alam pesisir, mereka berbondong-bondong menunaikan ibadah kemenangan setelah satu bulan menjalankan puasa.
DEWI SARMUDYAHSARI, Bantul
DI dunia pariwisata,Gumuk Pasir Parangkusumo, Mancingan, Parangkusumo, Bantul tidak diragukan lagi kepopulerannya. Apalagi di kalangan komunitas sand boarding. Karena biasanya, lokasi ini dijadikan tempat untuk bermain sand boarding dan merupakan satu-satunya spot yang ada di Asia Tenggara.

Namun, setiap Idul Fitri, gumuk pasir pesisir yang langka di dunia ini, dimanfaatkan oleh umat untuk menunaikan ibadah Salat Id. Warga sekitar dan pendatang membaur jadi satu tanpa jarak.

Ibadah makin khusyuk karena suara riuh knalpot kendaraan pun nyaris tak terdengar. Terganti dengan cuaca cerah dengan semilir angin sepoi-sepoi yang menambah kesyahduan ibadah yang dijalankan.

Sebelum mentari terbit sempurna, satu per satu umat berdatangan. Bersama teman, sanak saudara, dan keluarga. Di padang pasir sudah dibuatkan garis-garis lurus, agar umat membentuk barisan rapi. Sesudahnya, juga tidak ada koran bekas tercecer dan akhirnya menjadi sampah setelah dipakai sebagai alas. Sebab, umat alas sendiri berupa sajadah dan tikar yang bisa dipakai bersama.

Membawa tikar sendiri merupakan imbauan panitia Salat Idul Fitri. Sehingga tidak meninggalkan sampah di Gumuk Pasir ini. Karena hanya tangan-tangan manusia yang bisa merawat alam, dan tangan-tangan mereka juga yang bisa merusaknya. Jangan sampai, beberapa tahun yang akan datang, gumuk ini tidak lagi bisa digunakan untuk salat bersama karena sudah rusak.

“Serasa di Padang Pasir Arafah,” ujar salah satu warga Darni, 52, mengungkapkan perasaannnya usai salat, Minggu (25/6).

Dia mengaku setiap tahun selalu merindukan tempat ini. Tidakhanya suasana alamnya yang masih tenang dan alami, baginya ada kerinduan dalam kekhusyukan beribadah setiap kali Idul Fitri tiba. “Lebih nyaman, tenang. Setiap tahun pasti salat di sini,” ujarnya yang kompak mengenakan batik bernuansa cokelat bersama keluarganya.

Jarak Surabaya tempatnya merantau, tak lagi dirasa jauh jika sudah menginjak ke tempat kelahirannya di Dusun Sono, Kretek, Parangtritis. Apalagi kesekian kalinya, bersama keluarga bisa menunaikan ibadah bersama.

“Sekarang jauh lebih baik, pesertanya juga semakin banyak. Senang rasanya bisa salat berjamaah seperti ini,” ujarnya yang tak lupa merekam momen bersama keluarga usai salat.

Di momen Hari Raya Kemenangan kemarin, Pimpinan Pusat Muhammdiyah Agus Taufiqurrohman mengingatkan, agar momen Idul Fitri ini bukan menjadi akhir. Namun dimulainya kembali spirit Ramadan di kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, setelah satu bulan mereka dengan semangat selalu berkelakuan baik, tak berhenti di hari nan fitri saja.

“Mari tunjukkan bahwa orang muslim itu berakhlak baik, berperilaku baik,” ajak Agus yang menjadi imam dan khatib Salat Id kemarin.

Dari tahun ke tahun, peserta Salat Id di Gumuk Pasir selalu bertambah. Meski jumlahnya tidak signifikan, ribuan umat yang hadir selalu membuat panitia semngat untuk menjadi tuan rumah yang baik.
“Tahun ini jumlahnya sampai lima ribu lebih, tahun lalu sudah lima ribu, tapi selisihnya sedikit,” ujar Bendahara Panitia Hari Raya Besar Islam Suranto. (ila/ong)