JOGJA – Sekitar pukul 9.00, pelataran Masjid Gedhe Kauman sudah mulai kedatangan warga. Mereka menanti datangnya gunungan Garebeg Syawal Keraton yang sudah menjadi tradisi bertepatan dengan datangnya 1 syawal penanggalan hijriah atau bersamaan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri, kemarin (27/6).

Ada yang langsung masuk ke dalam mengambil posisi, tapi tak sedikit juga yang berdiri sambil menahan rasa penasaran melihat ke arah Alun-Alun Utara. Obrolan soal gunungan pun keluar, seiring mata yang tak lepas dari pintu Pagelaran Keraton Jogja, tempat gunungan keluar diarak yang dijaga oleh sepuluh kelompok prajurit yang jumlahnya mencapai ratusan.

Begitu prajurit sudah hampir sampai di pintu masjid, masyarakat semakin riuh. Apalagi, satu gunungan jaler atau lanang yang menjulang tinggi sekitar tiga meter ke atas tampak semakin mendekat. Di belakangnya disusul arak-arakan gunungan estri atau wadon, satu gunungan darat, satu gunungan gepak, dan satu gunungan pawuhan.

Antusiasme dan rasa penasaran masyarakat Jogja yang membaur jadi satu dengan wisatawan tak terbendung lagi ketika gunungan sampai di depan masjid. Setibanya di pelataran masjid, tidak sampai setengah jam gunungan sudah ludes dirayah
“Uyug-uyugan yang penting seneng (desak-desakan, tapi yang penting senang),” ujar salah satu warga Jogja Rini Wulandari yang menggandeng dua anaknya.

Bersama sang suami, Bakti Iswahyudi, Rini kali ini berhasil mengambil beberapa wajik dan sayuran. Memang bukan pengalaman pertama baginya mengikuti Garebeg Syawal, namun dia tidak pernah merasa kapok. Tapi justru ingin kembali lagi karena niat diri ingin memperkenallan budaya tradisi Keraton Jogja kepada dua anaknya.

Berbeda halnya dengan Ningsih yang pagi-pagi berangkat dari rumahnya di Kulonprogo. Ini pertama kalinya dia dan keluarga mengikuti Garebeg Syawal karena pengaruh tradisi. Bukan hanya karena penasaran, tapi juga ingin ikut mengamini dan mendapat berkah dari apa yang didapat dari gunungan.

Diantara masyarakat lokal, pendatang dan wisatawan nusantara, tidak sedikit wisatawan asing yang ikut berjibaku merayah gunungan. Tubuh yang lebih mendominasi, membuat salah satu wisatawan asal Cekoslovakia, Margareth juga dapat merayah wajik.

“Ya menyempatkan diri dulu melihat ini. Ternyata warga antusias sekali, saya tidak menyesal ikut. Apalagi ini hari terakhir saya di Jogja,” ujarnya.

Manggala Yudha atau Panglima Prajurit Keraton Jogja GBPH Yudhaningrat mengatakan, ada tujuh gunungan yang persiapannya sudah dilakukan sejak Jumat lalu. Menurutnya, isi gunungan tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Terdiri dari wajik, sayuran, dan hasil bumi lainnya.

“Ini sudah tradisi sebagai simbol sedekah Raja kepada rakyatnya, yang isinya tidak hanya hasil bumi tapi juga doa keselamatan. Agar masyarakat diberi kemakmuran ke depannya,” ujarnya.

Sementara itu, di hari yang sama juga diadakan ngabekten. Tahun ini menjadi pengalaman pertama bagi Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi untuk mengikuti acara ngabekti pada Raja Keraton Jogja Hamengku Bawono Ka 10.

Meski harus berjalan jongkok (lampah ndodok), HP, sapaannya mengaku tidak ada masalah. “Tidak masalah, waktu muda sering jadi laden mengantarkan makanan, dulu masih di tikar jadi ya jalan jongkok,” ujar HP yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PAN Kota Jogja ini sesuai mengikuti Ngabekten di Keraton Jogja, kemarin (26/6).

Bagi HP, ngabekten sendiri sudah lama diketahuinya. Menurut dia, pengalaman barunya kali ini lebih pada tata cara ketika berada di Keraton. Terlebih ketika harus menghadap Raja Keraton Jogja. Selain HP, ngabekten hari pertama Keraton Jogja juga diikuti Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti. Juga abdi dalem dengan pangkat Bupati Anom ke atas, Wali Kota dan Wakil Wali Kota serta Bupati dan Wakil Bupati di DIJ. Kecuali Bupati Gunungkidul Badingah dan Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun, yang baru ikut ngabekten putri hari ini (27/6), bersama para istri Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jogja serta istri Bupati dan Wakil Bupati di DIJ.

Ngabekten kemarin juga menjadi tahun ketiga para Rayi Dalem atau adik-adik Raja Keraton Jogja tidak hadir. Alasan yang diungkapkan masih sama, yaitu Sabda Raja pada 2015 yang dinilai melanggar Paugeran, seperti mengganti nama Hamengku Buwono X menjadi Hamengku Bawono Ka 10.

“Tidak akan pernah hadir apabila tidak kembali ke paugeran adat, kembali ke Islam dan menghormati UUK DIJ,” tegas GBPH Prabukusumo.

Meski menyatakan tidak hadir dalam ngabekten, Rayi Dalem Keraton Jogja GBPH Yudhaningrat tetap bertugas sebagai Manggala Yudha atau panglima prajurit Keraton Jogja, memimpin prosesi Garebeg Syawal. (dya/pra/ila/ong)