GUNUNGKIDUL – Kekhusyukan umat muslim pada pelaksanaan salat Idul Fitri di Alun-Alun Wonosari pada Minggu (25/6) buyar. Sejurus kemudian jamaah bubar. Pemicunya, materi khotbah yang disampaikan khatib dinilai sensitif.

Informasi yang dihimpun Radar Jogja, pelaksanaan Salat Idul Fitri yang dihadiri Bupati Gunungkidul Badingah ini awalnya berlangsung baik. Tidak ada keanehan. Ribuan umat muslim sudah berdatangan sejak pagi untuk melaksanakan salat Idul Fitri yang diimami oleh Muchammad Ichsan.

Usai mengimami, dia naik ke mimbar untuk memberikan ceramah. Namun, ceramah belum selesai, sejumlah jamaah sudah meninggalkan alun-alun. Padahal sudah jadi kebiasaan, jamaah salat menunggu khatib selesai ceramah. Kemudian mengikuti ikrar syawalan.

“Ceramahnya tentang Ahok. Seorang penista agama, kata khotib, tidak harus dibela ataupun dibantu. Kok ceramahnya begitu. Saya pulang kampung dari Jakarta ingin tenteram. Sampai di sini dengar Ahok lagi,” kata seorang jamaah Joko sambil geleng-geleng kepala.

Jamaah Salat Id yang menyimak ceramah saling pandang, di antaranya mengerutkan dahi. Khatib terus melanjutkan materi ceramah. Namun satu per satu jamaah berdiri dan meninggalkan lokasi salat. Bahkan terdengar teriakan “huu” dari jamaah. “Separo jamaah sudah bubar meninggalkan lokasi Salat Idul Fitri,” kata Joko lagi.

Padahal, seperti tahun-tahun sebelumnya, selesai khotbah kemudian dilanjutkan dengan ikrar halal bihalal. Namun konsentrasi jamaah sudah hilang. Buru-buru Kapolres Gunungkidul AKBP Muhamad Arif Sugiarto naik ke atas mimbar.

“Masalah penegakan hukum semuanya ada aturannya dan semua bisa memverifikasi apapun itu, jika ada yang tidak sependapat ada sistem yang bisa dilakukan di situ,” kata Arif.

Respons cepat kapolres naik ke mimbar dilakukan karena menyadari jamaah salat sudah bubar sebelum ikrar halal bihalal dimulai.

Dalam kesempatan itu, Arif mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momen hari raya supaya hidup tenteram, saling memaafkan, dan menjaga kerukunan antarumat beragama. Meski demikian sampai dengan acara selesai situasi aman kondusif.

Materi ceramah yang berbau SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) disesalkan oleh Bupati Gunungkidul Badingah. Dia mengaku terpukul dengan kejadian tersebut.

“Saya langsung lemas begitu mendengar (ceramah). Mau berdiri waktu itu sulit,” kata Badingah kemarin (26/6).

Menurut dia, Gunungkidul selama ini sudah tenteram, karena kerukunan antarumat beragama terjalin dengan baik. “Saya tidak dapat berkomentar banyak mengenai kejadian kemarin,” ujarnya.

Namun begitu, sebagai petinggi pemerintahan pihaknya tidak bisa tinggal diam. Badingah langsung berkomunikasi dengan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) mengenai kejadian tersebut. Langkah koordinasi mendesak dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang dikemudian hari.

“Ini hari baik, seharusnya saling bermaafan. Lebih banyak menebar maaf kepada siapa saja,” tegasnya.
Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Gunungkidul Iskanto AR menilai materi ceramah kurang tepat. “Merupakan hal yang terlalu sensitif. Dalam hal khotbah untuk konsumsi umat umum kurang pas,” kata Iskanto dikonfirmasi usai salat Idul Fitri.

Dia menghendaki, ke depan isi ceramah keagamaan lebih memberikan kesejukan kepada seluruh lapisan masyarakat. “Tujaun kita bersama adalah menjaga dan meningkatkan kerukunan umat dan meningkatkan iman dan takwa,” ujarnya.

Di bagian lain, Kapolres Gunungkidul AKBP Muhamad Arif Sugiarto mengatakan, ending dari pendalaman kasus ini adalah menjaga ketertiban dan keamanan. Oleh sebab itu, pihaknya tidak ingin terburu-buru mengaitkan dengan pelanggaran hukum.

“Kami dalami dulu,” katanya ketika dikonfirmasi kemarin (26/6).
Dia mengatakan, kasus materi ceramah Idul Fitri 1438 sedang ditindaklanjuti. Pihaknya telah meminta keterangan PHBI.

“PHBI selaku penanggungjawab, jadi kami wawancarai seputar kejadian,” jelasnya.

Informasi awal, PHBI meminta maaf karena tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap materi khotbah. Pertimbangan panitia, imam sekaligus khatib Muchammad Ichsan selama ini tidak bermasalah.

“Kata panitia, sudah percaya karena khatib tersebut sering berceramah dan tidak provokatif,” ujarnya.

Akan tetapi, pada kenyataannya, materi ceramah yang disampaikan memicu keresahan. Terbukti, jamaah yang hadir dalam kegiatan bubar dengan sendirinya. Begitu pula di ranah media sosial. Banyak warga Gunungkidul yang menyesalkan materi ceramah tersebut.

Apa khatib juga sudah dimintai keterangan? Menurut Arif sampai dengan sekarang belum dilakukan. Pihaknya masih konsentrasi mendalami keterangan dari PHBI. (gun/ila/ong)