Rajin Puasa Senin-Kamis, Biasa Hidup Prihatin sejak Kecil

Nama Eka Duta Prasetya mendadak viral di dunia maya. Tak mau merepotkan kedua orang tuanya, Eka mendaftar sekolah di MAN 1 Kota Magelang dengan uang koin senilai Rp 1 juta. Itu adalah hasil tabungannya selama empat tahun.
ADI DAYA PERDANA, Magelang
Foto Duta saat mendaftar sekolah di MAN 1 Kota Magelang cepat tersebar di media sosial. Tampak dia berhadapan dengan salah seorang petugas penerima siswa baru MAN 1 Kota Magelang. Di atas meja tertumpuk ribuan koin yang digunakannya untuk membayar biaya pendidikan.
Tak pelak, sang petugas pun dibuat sibuk menghitung uang logam tersebut dari satu per satu.

Ketika itu Duta yang mengenakan seragam madrasah tsanawiyah (MTs) terpekur menyaksikan petugas di depannya sibuk menghitung koin.
Uang tersebut merupakan hasil jerih payah Duta mengumpulkan sisa uang saku selama empat tahun. Total terkumpul Rp 7 juta, semuanya koin logam.
“Nabung sejak SD. Tiap hari nabung Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu,” ungkap Duta kepada Radar Jogja yang menemuinya di rumah kontrakan orang tuanya di Griya Purna Bhakti Indah, Ngadirojo, Secang, Kabupaten Magelang kemarin (21/6). Di rumah sederhana itu Duta tinggal bersama ayahnya, Agung Prasojo,42, dan neneknya, Sutiyah,54.

Saat duduk di bangku MTs, ia mendapat uang saku sekitar Rp 15 ribu per hari. Sebagian disisihkannya, disimpan di dalam toples bekas makanan kecil.
Duta sengaja menabung untuk modal mendaftar sekolah di jenjang yang lebih tinggi. Dia pun membobol celengan-nya, saat akan berangkat ke MAN 1 Kota Magelang. Ribuan koin dibawanya menggunakan kantong plastik.

“Awalnya saya nabung untuk membeli laptop atau komputer. Rencananya buat belajar. Sekarang untuk membayar biaya pembelian seragam sekolah,” kata Duta.

Ya, Duta berhasil menyingkirkan egonya demi melanjutkan sekolah ke jenjang sekolah menengah atas.
Dia harus rela menunda pembelian komputer lantaran penghasilan ayahnya, Agung Prasojo,42, yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang parkir di salah satu rumah sakit di Kota Magelang tidak cukup untuk melunasi biaya sekolah di MAN 1. Hasil dari parkir, sehari hanya dapat sekitar Rp 40 ribu. Hanya cukup untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

Ayahnya pula yang meminta Duta melanjutkan sekolah yang jaraknya dekat dengan rumah. Supaya jika ayahnya tak bisa memberi uang saku Duta tetap bisa berangkat ke sekolah dengan sepeda. Meskipun jarak antara sekolah dan tempat tinggalnya cukup jauh. Sekitar 20 kilometer.
Seperti saat mendaftar sekolah, Duta juga mengayuh sepeda onthel-nya. Koin seberat lebih dari satu kilogram itu dimasukkan ke dalam tas punggung. Duta sempat berniat menukarkan koin itu ke tetangga, supaya lebih ringan dibawa ke MAN 1. Namun, niat itu tak kesampaian karena tidak ada tetangga yang mau ditukari uang koin.

Bersepeda menempuh jarak jauh sudah menjadi kebiasaan Duta sejak SMP. Bahkan, jarak antara MTs Kota Magelang, tempatnya sekolah dulu, lebih jauh dari MAN 1.

” Pesan ayah, sekolah itu yang lebih penting agamanya,” kenang remaja kelahiran 1 Juni 2001.

Duta juga membiasakan berhemat dengan rajin puasa Senin-Kamis. Terlebih, tabungannya tak selalu hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Saat sang ayah atau nenek butuh duit, Duta tak segan mengambil uang recehan miliknya. Terutama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendesak. Pernah suatu kali Duta harus merogoh toples tabungannya untuk biaya berobat neneknya yang mengidap komplikasi gula dan darah tinggi.
Ayah Duta juga kerap telat bayar tagihan air, sehingga dia pula yang harus melunasinya.

Bahkan, kontrakan rumah yang dihuninya saat ini tak bisa diperpanjang lagi karena hendak dijual oleh si pemilik.
Meski hidup di tengah suasana serba pas-pasan, semangat Duta menuntut ilmu tak pernah patah. Demi menggapai cita-citanya menjadi pengusaha dan penghapal Alquran (hafiz).

Setiap berangkat ke sekolah Duta juga selalu membawa bekal sendiri dari rumah. Masakan sang nenek, yang selalu berpesan kepada Duta untuk rajin mengencangkan ikat pinggang.

“Lebih baik untuk melanjutkan sekolah dulu. Rezeki bisa dicari. Mencari uang gampang tapi mencari pendidikan itu susah,” tutur Sutiyah.
Duta biasa hidup prihatin sejak kecil. Hal itu tak lepas peran nenek dan orang tuanya. Saat teman sebayanya sembunyi-sembunyi merokok, Duta tidak boleh ikut-ikutan. Selain karena alasan ekonomi, Duta terjangkit penyakit paru-paru sejak kecil. “Syukur penyakitnya kini sudah membaik,” ungkap Sutiyah.

Duta juga dididik untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa. Tak jarang, Sutiyah membangunkan Duta saat tertidur lelap tengah malam untuk salat Tahajud.

Sutiyah masih ingat betul perjuangan Duta selama di MTs. Suatu ketika sepulang sekolah kehujanan seragamnya basah kuyup. Karena hanya memiliki sepasang seragam, baju basah itu segera dikeringkan supaya bisa dipakai lagi keesokan hari.

“Ketika musim hujan pulang sekolah selalu kehujanan. Kasihan saya melihatnya,” ucapnya.
Di mata tetangga, Duta dikenal sebagai sosok yang santun. Duta juga razin menjadi muazin di masjid dekat rumahnya. Bahkan, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Duta pernah menjadi juara lomba azan di kampungnya.

“Tiap malam juga rajin kumpul di masjid untuk ikut tadarus,” ungkap Ibu Tukiman, tetangga Duta.
Ibu paro baya itu sangat salut dengan tindak-tanduk Duta. Terlebih, Duta tak punya rasa malu untuk berusaha. Seperti yang biasa dilakukan selama sekolah di MTs. Duta terbiasa membawa makanan kecil dari rumah untuk dijual kepada teman-temannya.

“Beli snack di warung dekat rumah, lalu dijual lagi. Ia hanya mengambil untung sedikit,” ungkap Ibu Tukiman.

Melihat semangat Duta, manajemen MAN 1 Kota Magelang pun sangat apresiatif. Bahkan, pihak sekolah membuatkan rekening bank untuk tabungan Duta. “Uang Rp 1 juta yang seharusnya untuk beli seragam kami masukkan ke rekening Duta,” ungkap Kepala Sekolah MAN 1 Kota Magelang Kasnawi.
Lebih dari itu, Duta mendapat garansi sekolah gratis selama menempuh pendidikan di MAN 1. Pihak sekolah berkomitmen tak akan memungut biaya pendidikan.

“Saya sendiri kaget karena anak umur segini semangatnya luar biasa. Peristiwa ini menjadi cerita inspiratif bagi siswa lain,” ujarnya.
Bagi Kasnawi, meski masih belia, Duta telah menyiapkan masa depannya dengan baik. (yog/ong)