Dilepas Paku Alam X, Gratis Sampai Tujuan

Sejak lama wilayah Jogjakarta menjadi rumah ke dua bagi sebagian warga Kuningan dan Indramayu. Mereka mengais rezeki dengan membuka warung bubur kacang ijo (burjo). Tiap jelang Lebaran mereka punya tradisi mudik bareng.
HERU PRATOMO, Jogja
Seperti angkringan, warung burjo telah menjadi tempat nongkrong paling asyik bagi kalangan muda di Jogjakarta. Khususnya para mahasiswa. Warung burjo menjadi surga bagi mereka yang sering mengalami perut keroncongan di tengah malam. Ya, sebagian besar warung burjo memang buka 24 jam nonstop, sehingga menjadi andalan para mahasiswa saat butuh pengganjal perut.

Selain burjo, mi instan menjadi menu utama. Lengkap dengan aneka minuman kopi instan, teh, dan jeruk. Semua bisa disajikan panas atau dingin. Setiap Lebaran mereka bedhol desa, kembali ke kampung halaman masing-masing. Seperti halnya tahun ini. Setidaknya untuk dua minggu ke depan para penikmat sajian burjo dan mi harus “puasa”. Karena hampir semua pemilik warung burjo mudik.

Tak tanggung-tanggung, di wilayah DIJ sedikitnya ada 2.100 perantau yang mengandalkan hidup dari jualan burjo dan mi instan. Sebagian telah berkeluarga dan berbagi tugas, demi pintu warung selalu terbuka bagi pelanggan. Lebaran tahun ini sekitar 1.650 pedagang pulang kampung. Mereka dilepas Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X dan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti serta Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi di lapangan parkir Stadion Mandala Krida, Senin (19/6) malam.

Mereka diangkut menggunakan 32 bus. Mudik gratis difasilitasi salah sau perusahaan mi instan terbesar di Indonesia.Dalam kesempatan itu, Wagub berharap keberadaan pedagang burjo di Jogja bisa turut memakmurkan kampung halaman mereka. Termasuk memperkuat silaturahmi warga Jogja dan Jawa Barat. “Setelah ber-Lebaran di kampung halaman bisa kembali melakukan kegiatan rutin di Jogja,” pesannya.

PA X juga mengapresiasi perusahaan mi instan yang memfasilitasi para pedagang burjo mudik gratis. Bagaimana tidak, pedagang burjo ibarat ujung tombak sektor retail mi instan di Indonesia, khususnya di Jogjakarta.

“Fasilitasi mudik gratis memudahkan pedagang (burjo) memilih moda transportasi mudik. Mereka tidak perlu berdesakan mencari tiket atau berdesakan di atas bus dan kereta,” ujarnya

Eka Roslina, salah seorang peserta mudik gratis dari Kuningan, mengaku bersyukur mendapat kesempatan mudik gratis kali ini. “Meski namanya warung burjo tapi permintaan terbanyak dari pelanggan adalah mi instan,” ungkapnya.(yog/ong)