RADARJOGJA.CO.IDLantaran tidak terima, Fikral melaporkan kasus bullying yang dialaminya ke Polda DIJ kemarin (20/6).
Frikal datang ke mapolda didampingi beberapa rekannya dari Paguyuban Pengemudi Online Jogjakarta (PPOJ) sekitar pukul 15.30. Mereka langsung menuju ruang sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) lantai 2. Dia diterima petugas piket SPKT Tugiman.

Kepada petugas Frikal menceritakan kronologis peristiwa yang dialaminya, hingga dia dipaksa melucuti pakaian yang sedang dikenakan. Fikral menyayangkan sikap oknum bandara. Apalagi saat itu kunjungan penumpang sedang ramai. Kepada petugas bandara Fikral juga menyatakan siap bertanggung jawab atas kelalaian yang diperbuatnya. “Saya sudah siap membuat surat pernyataan dan ganti rugi materiil. Tapi jangan dipermalukan di depan umum,” sesalnya.

Saat itu Fikral juga mengalami kejadian tidak mengenakkan. Dia dipaksa push up sebanyak 50 kali dan menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Dia juga diminta meminta maaf kepada sopir taksi (konvensional) yang ada di tempat kejadian.

Fikral berada di ruang SPKT sekitar 20 menit. Selanjutnya, petugas mendampinginya ke ruang Reskrimum untuk pembuatan berita acara pemeriksaan

(BAP). “Aduan pelapor terkait perbuatan tidak menyenangkan,” jelas Tugiman.
Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yulianto menjamin, setiap laporan yang masuk ke mapolda pasti akan ditindaklanjuti. “Ada atau tidaknya unsure pidana dalam kasus itu nanti akan dipelajari oleh penyidik,” katanya.

Sebagai bentuk solidaritas, ratusan pengemudi taksi online sempar berkumpul di lapangan parkir Monjali. Mereka berniat mengantarkan Fikral ke Mapolda DIJ. Namun hal itu diurungkan demi menjaga kelancaran arus lalu lintas di Jalan Ring Road Utara.
Ketua PPOJ Muhtar Ansori berharap, keadilan hukum di DIJ benar-benar bisa ditegakkan. Menurutnya, ulah oknum bandara tidak sewajarnya dikategorikan sebagai peringatan bagi pengemudi taksi online yang dianggap melanggar ketentuan di area bandara.

Muhtar juga menyayangkan pernyataan pihak PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto yang mengklaim aksi pelucutan pakaian Fikral sebagai wujud spontanitas karena ada taksi online beroperasi di wilayah bandara.

“Itu tidak benar, pihak sopir juga tidak ada niatan mengambil penumpang,” katanya.

Menurut Muhtar, ketika itu Fikral bermaksud keluar bandara. Lantaran ada pengalihan arus lalu lintas, mobil yang dikendarainya diarahkan menuju area parkir utara lokasi penjemputan penumpang. “Disitulah peristiwa itu terjadi,” jelas Muhtar.

Dikatakan, saat itu gawai milik Fikral dalam mode auto bid. Makanya, saat ada orderan otomatis masuk.

Nah, di jalur pengalihan arus itulah calon penumpang melihat mobil yang dikendarai Fikral. Tanpa seizin sang sopir, si penumpang nekat masuk ke dalam mobil. Padahal saat itu Fikral telah mengingatkan si penumpang agar berjalan keluar dulu dari zona penjemputan penumpang bandara.

“Sudah diarahkan agar menunggu di samping kantor imigrasi. Ini sesuai kesepakatan dengan pihak otoritas bandara,” katanya.
Sebelum si penumpang sempat keluar mobil, ternyata keduluan petugas bandara mencegatnya. Lalu, pengemudi taksi bandara memaksa turun dan menggiring Fikral ke arah lobi.

“Pada bagian dada korban digambar menyerupai wajah. Lalu dia disuruh berteriak minta maaf sebanyak 10 kali,” lanjut Muhtar.
Korban, menurut Muhtar, juga diminta menyalami satu persatu sopir taksi pelat hitam bandara. Tidak selesai sampai disini, Fikral juga diperintah untuk mencium dua patung di lobi bandara. Hingga akhirnya diminta membuat surat pernyataan dengan terlebih dahulu dimintai uang Rp 100 ribu.

“Kalau memang memperingatkan kan tidak harus seperti itu. Sudah sangat tidak manusiawi dan memalukan. Bahkan diminta untuk menyanyikan lagu Garuda Pancasila tapi untuk tujan guyonan. Ini tentu sudah sangat tidak etis,” tegasnya.

Muhtar mengaku belum mengetahui secara pasti oknum yang mengintimidasi Fikral. Yang dia tahu, oknum tersebut merupakan sosok yang cukup dikenal dan ditakuti di lingkungan bandara.

Sebelumnya, General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto Agus Pandu Purnama menyatakan, peristiwa yang menimpa Fikral lebih sebagai reaksi spontan para sopir taksi bandara yang merasa lahan mereka diserobot.

Menurutnya, PT Angkasa Pura I menerapkan aturan tertentu guna melindungi pengguna jasa bandara. Hal itu merujuk Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor: SKEP/100/XI/1985 tentang Peraturan dan Tata Tertib Bandar Udara. Hal itu ditindaklanjuti dengan Keputusan Direksi PT Angkasa Pura I.

“Berdasarkan aturan itu taksi online memang tidak diizinkan menaikan penumpang dari bandara karena selama ini tidak ada kerjasama dengan Angkasa Pura I,” jelasnya melalui surat keterangan pers. (dya/kus/bhn/dwi/yog/ong)