RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Berbelanja kebutuhan pokok dan pakaian selalu menjadi pemandangan lazim setiap jelang Lebaran. Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi tak ingin hal itu dimanfaatkan para pedagang untuk mencari keuntungan di luar kewajaran. Demikian pula para juru parkir (jukir) di pusat-pusat perbelanjaan. Khususnya bagi mereka yang mengais rezeki di kawasan Malioboro. Termasuk pedagang kaki lima (PKL) penjaja kuliner.

HP, sapaanya, mewanti-wanti para pedagang dan jukir tak menaikkan tarif seenaknya. “Jangan sampai ada aksi aji mumpung. Saya tak ingin mendengar lagi ada wisatawan kethuthuk harga,” tegasnya di sela pantauan kesiapan Lebaran di UPT Malioboro kemarin (14/6).
Orang nomor dua di Pemkot Jogja tak ingin nama baik Kota Jogja rusak gara-gara ulah pedagang dan jukir nakal.

Sebaliknya, HP berharap seluruh pelaku ekonomi di Malioboro dan pusat perbelanjaan lainnya ikut memromosikan ikon wisata Kota Jogja.

Demikian pula para petugas pemerintah yang saat Lebaran terlibat dalam pengamanan Lebaran. Mereka wajib menyampaikan informasi secara simpatik bagi wisatawan maupun siapapun yang bertanya tentang Jogja. Kendati demikian, petugas tetap harus tegas dalam menghadapi pelanggaran yang terjadi, baik dilakukan pedagang, jukir, maupun wisatawan yang berkunjung ke Malioboro.

“Siapapun yang bertugas harus memberikan pelayanan yang baik dengan cara orang Jogja. Tidak perlu angkuh dan sombong, tapi dengan senyum,” pintanya.

Guna menjamin kenyamanan pengunjung Malioboro, kata HP, pemkot akan memperbanyak petugas Jogoboro. Juga membuka pos informasi di kantor UPT Malioboro dan Pasar Beringharjo.

HP menyadari, kemacetan pasti menjadi hal yang tak terhindarkan saat puncak libur Lebaran mendatang. Untuk itu, dia meminta Diskominfo Jogja menyiapkan aplikasi SMS blast yang berisi informasi ketersediaan lahan dan peta parkir, serta arus lalu lintas di seputar Malioboro. “Yang sering bikin macet itu karena wisatawan berputar-putar untuk cari tempat parkir. Makanya ini harus diantisipasi sejak dini,” katanya.

Terpisah, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengaku telah menyiapkan sanksi bagi PKL maupun jukir yang aji mumpung nuthuk wisatawan.
“Jangan berperilaku preman. Yang punya niatan urungkan saja karena nanti akan berhadapan dengan hukum,” ancamnya.
HS, sapaannya, meminta para PKL saling mengingatkan jika ada yang menaikan harga di luar batas kewajaran. “Bukan saling ngindhik harga tapi mengingatkan,” ingatnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro (PPLM) Sukidi memastikan semua warung lesehan di jantung Kota Jogja sudah dilengkapi papan nama identitas dan daftar harga. Jika ada pelanggaran, pengunjung diminta melapor ke UPT Malioboro.
Sukidi menegaskan, paguyuban juga siap menindak PKL yang nakal. Saat ini ada 59 PKL yang gabung dalam paguyuban. “Pernah ada yang kami beri sanksi larangan berjualan selama seminggu,” ujarnya.

Di bagian lain, Sukidi tak menampik kemungkinan adanya kenaikan harga produk kuliner saat Lebaran. Menurut Sukidi, hal itu lebih disebabkan karena kenaikan harga bahan baku. Meski harga daging relatif stabil, kata dia, bumbu dapur justru terus merangkak naik. “Tapi nanti (saat Lebaran) sepertinya tidak ada kenaikan harga,” ucap Sukidi memprediksi.

Sementara Kepala UPT Malioboro Syarif Teguh Prabowo telah menyiapkan sedikitnya 80 petugas Jogoboro untuk menyambut libur Lebaran tahun ini. Pengawasan lapangan didukung 10 unit CCTV dan enam petugas radio. Tak kurang 20 petugas kebersihan juga disiapkan untuk menjaga ikon wisata Malioboro bersih dari sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung. Keberadaan petugas tersebut untuk mem-back up personel kepolisian, Satpol PP, dan TNI.(pra/yog/ong)