Wulan Pasa, Mbangun Rumaketing Wargo tanpa Winates

Ramadan selalu menjadi bulan untuk berlomba mendulang pahala. Seperti dilakukan warga Padukuhan VI, Cerme, Panjatan, Kulonprogo. Mereka menggelar kembul bujana sebagai ajang silaturahmi. Seperti apa kearaban warga di acara makan bersama itu?
Hendri Utomo, KULONPROGO
SORE itu, hampir semua warga Padukuhan VI Cerme tampak semringah. Seolah kompak, setiap kepala keluarga mengajak anggotanya menuju jalan desa yang disepakati untuk berkumpul. Di situlah kembul bujana digelar. Tak ada sekat di antara mereka. Baik tua-muda, laki-laki dan perempuan berkumpul dalam satu deretan. Untuk menyantap hindangan di atas daun pisang yang dijereng (digelar) di atas jalan setapak memanjang. Tak lupa doa mereka panjatkan sebelum santap malam itu. Hidangan disiapkan oleh seluruh warga.

“Tradisi kembul bujana muncul dari ide buka bersama. Dengan semangat kebersamaan saling kontak lewat WhatsApp. Termasuk dalam menggalang dana kegiatan,” tutur Suroto, Kades Cerme.

Donasi yang terkumpul dibelanjakan untuk hidangan. Tidak harus uang. Sebagian warga memilih menyumbang bahan makanan. Seperti ayam kampung untuk dibuat ingkung, ayam potong, lalapan, bumbu, bahkan hidangan pembuka puasa berupa es pisang ijo dan teh manis.
Bagi warga Cermen, kembul bujana sekadar acara makan bersama yang selalu menjadi tren saat bulan puasa. Kegiatan ini ternyata ampuh sebagai sarana nguri-uri, sekaligus mengenalkan tradisi nenek moyang kepada generasi penerus.

*Setiap orang cukup lahap menyantap aneka menu sederhana itu. Penuh canda tawa, puluhan warga menyatu menjadi satu keluarga besar.
“Maksud acara ini adalah untuk membangun kerukunan dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Semoga ke depan acara ini menjadi kegitatan rutin tahunan setiap Ramadan,” harapnya.

Selain warga setempat, tampak hadir perangkat kecamatan hingga aparat keamanan dari kepolisian dan TNI. Seperti Babinsa, Babinkamtibmas, dan sesepuh desa.

Ahmad Zabidi, salah seorang ulama Padukuhan VI Cerme, mengungkapkan, kerukunan hidup bermasyarakat dan gotong royong merupakan kekuatan terhebat di tengah masyarakat. Sejalan dengan imbauan pemerintah, gotong royong merupakan ruh dari Pancasila. Maka tradisi gotong royong dan saling hormat menghormati antarwarga itu harus dijaga dan dilestarikan sampai kapan pun.

“Sebagai umat bergaama, kita wajib menjaga kerukunan antar umat dan antara umat beragama. Harus hidup bersama dalam keragaman, saling bantu membantu ditengah masyarakat. Begitulah yang dicontohkan dalam tuntunan agama manapun,” tuturnya. (yog/ong)