RADARJOGJA.CO.ID- Produktivitas hasil panenan jagung di Jogjakarta tergolong tinggi. Produktifitas jagung menempati kedua setelah ubi kayu. Diperkirakan, panen jagung di Jogjakarta mencapai 300 ribu ton/tahun. Anehnya, produktifitas jagung yang tinggi bukan untuk konsumsi melainkan sebagai pakan ternak.

“Untuk diversifikasi pangan produk olahan jagung belum begitu maksimal di Jogjakarta. Padahal, produktivitas hasil panenan jagung Jogjakarta tergolong tinggi. Sehingga, jagung dari Jogjakarta sering diambil kabupaten atau provinsi lain,” Kepala Dinas Pertanian DIY, Ir Sasongko awal Juni lalu.

Presiden Direktur Monsanto Indonesia (Produsen benih jagung hibrida) Ganesh Pamugar Satyagraha mengatakan, pelaksanaan praktek pertanian tepat guna sangat diperlukan khususnya bagi pertanian komoditas jagung untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Praktek pertanian tepat guna termasuk tanaman jagung dapat dilakukan mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, penyiangan gulma, pengendalian hama penyakit serta yang paling penting adalah pemilihan benih berkualitas. Dengan demikian diharapkan petani bisa memperolehpeningkatan hasil di tengah tantangan alih fungsi lahan pertanian.

Ganesh menjelaskan, Mosanto memproduksi benih jagung hibrida yang bernama Dekalb DK959 dan DK771. “Kedua benih ini merupakan benih hibrida pengembangantermutakhir dari Monsanto Indonesia yang mempunyai karakterberbeda namun saling melengkapi serta cocok untuk ditanam diwilayah Jawa Tengah dan Jogjakarta,” papar Ganesha.

Menurutnya, benih Dekalb DK959 sangat cocokditanam di lahan sawah bekas padi yang mempunyai sistemirigasi. Benih ini menawarkan hasil produksi yang lebih tinggi,mencapai rata rata 9-10 ton per hektar dan cocok ditanam dimusim kemarau.

Sedangkan benih Dekalb DK771 cocok untuk ditanam dilahan-lahan marginal atau kurang subur atau dibawah naunganpohon. Benih ini mempunyai keunggulan khusus yakni tahanterhadap penyakit bulai serta usia panen yang lebih singkatsehingga cocok bagi petani yang mau menambah frekuensitanam.

“Hasil panen yang tinggi jugamencapai rata rata produksi 8-9 ton per hektar,” jelasnya. (mar)