RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Ramadan identik dengan pesta petasan. Meski sudah dilarang, nyatanya petasan masih saja dinyalakan oleh anak-anak muda. Mengantisipasi dampak buruk yang ditimbulkan akibat petasan, Polres Sleman menggelar operasi penertiban petasan selama Ramadan.

Kapolres Sleman AKBP Burkan Rudy Satria menegaskan penyalahgunaan petasan akan dikenai sanksi. Pasal yang digunakan Undang-Undang Darurat 12/1951 dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

“Kami akan tindak tegas, siapa yang mengedarkan maupun bermain petasan tanpa ada izin resmi kepolisian akan kami sanksi dengan UU Darurat,” jelas Burkan di Mapolres Sleman kemarin (6/5).

Menurut Burkan, petasan sangat berbahaya dan menganggu ibadah selama bulan puasa. Dia khawatir keberadaan bahan-bahan yang bersifat eksplosif tersebut digunakan kelompok tertentu untuk mengganggu kondusivitas Jogjakarta.

Sementara upaya preventif penertiban penyalahgunaan petasan, aparat Pores Sleman meringkus Ferry Tri Sutatnto, 25 tahun, warga Tempel. Pelaku terbukti memiliki bahan pembuatan petasan beserta sejumlah petasan yang sudah jadi.

Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Rony Are Setia mengungkapkan dari tangan pelaku polisi mengamankan 25 kilogram bahan pembuat petasan. Bahan tersebut terdiri dari obat petasan 9,9 kilogram, potassium klorida 5,5 kilogram, belerang 8 kilogram dan blackpowder 2 kilogram. Barang bukti lain berupa sumbu dan kertas bahan petasan.

“Barang bukti yang kami sita bisa menghasilkan ribuan petasan,” jelas Are.

Bahan peledak itu didapat dari seorang yang ada di Kebumen. Rencananya akan dijual di wilayah Sleman. Sementara petasan yang sudah jadi akan diedarkan sesuai pesanan. “Pengakuan pelaku belum sempat diedarkan,” ujar Are.

Mantan Kasatresnarkoba Polres Sleman ini mengatakan selanjutnya bahan petasan yang disita akan dimusnahkan Tim Penjinak Bom Gegana Polda DIJ di Lapangan Pandowoharjo. Sementara sebagian akan disimpan untuk dijadikan alat bukti dalam persidangan.

Pemilik bahan petasan Ferry mengaku melakukan upaya melawan hukum itu sejak 2013. Dia menekuni bisnis tersebut dan ilmu meracik petasan didapatkan dari youtube.

“Alasan menjual petasan motifnya ekonomi. Karena saat bulan puasa peminatnya cukup tinggi,” kata Ferry.
Pelaku yang terancam hukuman penjara 10 tahun ini menyebutkan setiap kilogram bahan petasan tersebut dijual seharga Rp 200 ribu. Bahan petasan tersebut banyak dipesan untuk memeriahkan acara haul.

“Kalau petasan yang sudah jadi saya pakai sendiri untuk memeriahkan lebaran,” kata Ferry. (bhn/iwa/ong)