Sediakan Barang Jadul hingga Kuliner Khas Rumahan
Berangkat dari hobi jual beli barang antik dan jadul, Bayu Arya Setiawan, 40, membangun sebuah kafe bergaya 1980-an. Ruang koleksi perabot rumah tangga tempo dulu disulapnya menjadi tempat nongkrong yang asyik di Bocor Alus Café.

VITA WAHYU HARYANTI, Bantul.

Aneka perkakas rumah seperti teko, gelas, kipas angin, telepon, televisi, dan radio yang serba kuno terpajang rapi di etalase Bocor Alus Café yang terletak di Dusun Tarudan Kulon, Sewon, Bantul. Masuk ke kafe ini kita seolah diarahkan untuk mengenang masa lalu.

Di setiap sudut ruangan terpajang barang-barang jadul. Tak kurang seribu benda kuno tersebar di kafe itu. Sebagian besar perabot berfungsi dengan baik. Cahaya temaram di dalam ruang kafe makin menguatkan nuansa kenangan masa lalu nan klasik.

Untuk mendapatkan barang-barang jadul bukanlah perakara gampang. Bayu memburunya dengan modal informasi dari banyak mulut. Bahkan, sampai ke luar kota. Butuh waktu sekitar 15 tahun bagi Bayu untuk mengumpulkan semua koleksinya. Dia mulai berburu barang-barang jadul sejak 2002. “Setelah lulus kuliah saya ingin cari uang tambahan. Awalnya iseng beli barang jadul untuk dijual lagi. Ternyata untungnya lumayan, lantas keterusan,” ungkap Bayu kepada Radar Jogja yang mengunjunginya, Minggu (4/6).

“Yang jelas tak semua pemilik barang mau menjualnya. Apalagi yang masih bagus wujud dan fungsinya,” lanjutnya.

Semua barang yang di-display di kafe joglo itu dijual ke pengunjung. Harganya cukup variatif. Mulai Rp 5 ribu sebiji hingga jutaan.

Berdirinya Bocor Alus Café sebenarnya bukan melalui perencanaan matang. Bahkan, Bayu mengaku mendapatkan ide secara dadakan. Suatu ketika, dia berangan-angan untuk menyediakan alternatif tempat nongkrong bagi teman-temannya. Namun dengan konsep yang lain daripada kafe lain yang ada.

“Kalau kafe modern, wifi kenceng, itu sudah banyak. Saya ingin masyarakat semua generasi bisa menikmati keunikan kafe ini dengan nuansa yang berbeda,” ucapnya.

Kafe yang baru 2 minggu dibuka untuk umum ini juga menyuguhkan aneka menu kuliner rumahan. Seperti sayur lodeh, sayur asem, tempe goreng, ketela goreng, teh tubruk, kopi, dan aneka minuman tradisional. Siapapun yang berkunjung seperti benar-benar dibawa ke masa lalu. Sebagaimana saat kita berkunjung ke rumah nenek di desa dengan hamparan sawah sebagai panorama alam.
Ada tiga tiga joglo yang berdiri di atas tanah seluas 350 meter persegi.

Bayu sengaja menyeting suasana kafe dengan sedikit cahaya lampu. Hanya dengan bolam lampu kuning berdaya kecil. Untuk meningkatkan daya pikat pengunjung, Bayu menempelkan tulisan-tulisan lucu di dinding joglo. Ada kalimat, “Boleh miskin asal bahagia”, “Elek yo ben pokoke nggaya”, “Balekno Kemulku Sri”, “Jangan mendua cinta ndes”, dan “Ora bakal nganggo wifi2nan ndes”.

Tulisan terakhir itu sengaja disematkan sebagai pengingat bagi pengunjung sebelum masuk ke dalam kafe yang memang tak ada fasilitas wifi.

“Saya ingin semua pengunjung guyub dengan mengobrol dari meja satu dengan yang lain tanpa disibukkan dengan gawai masing-masing,” tuturnya.
Bagi yang penasaran dengan kafe klasik ini bisa datang ke Dusun Tarudan, Sewon mulai pukul 10.00 hingga 23.00. Melengkapi koleksinya, Bayu menyediakan kebaya jadul bagi pengunjung untuk berfoto-foto.(yog/ong)