RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Pedagang takjil di Kampung Ramadan Pakualaman sempat was-was begitu mobil laboratorium keliling milik Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ diparkir di dekat lokasi jualan mereka kemarin (5/6). Rasa penasaran semakin menghantui para pedagang saat empat petugas turun dari mobil dan menghampiri lapak mereka satu per satu.

“Tak kira ada apa, yo was-was to,” ungkap Mbah Susi, salah satu pedagang di Kampung Ramadan Pakualaman. Dia mengaku kaget saat didatangi petugas BBPOM. Terutama saat bakmi dan kicak yang dijual warga Pakualaman itu dibeli petugas untuk dijadikan sampel.

“Kalau mi yang saya jual berbahaya, besok beli dimana lagi?” ujarnya yang sudah tiga tahun ini buka lapak di pasar tiban itu.

Mbah Susi mengaku tak ingin menjual makanan yang aneh-aneh. Dirinya ingin berperilaku sebagai konsumen. Bakmi kopyok, es kopyor, kicak, dan jajanan lainnya dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang menurutnya tidak berbahaya untuk kesehatan. Rasa was-was Mbah Susi pun terjawab setelah petugas BBPOM selesai melakukan pengujian.”Alhamdullilah hasilnya aman. Ya aman, jualan jadi tentrem,”ujar Mbah Susi yang menjual jajanan dari harga Rp 2 ribu hingga Rp 6 ribu.

Tak kurang 23 jenis makanan ringan dikumpulkan petugas dari lapak pedagang di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kota Jogja.

Beberapa makanan yang dites laboratorium, di antaranya, mi, cilok, pudding, kolang-kaling, cireng, dan telur gulung. Pengujian tersebut untuk memastikan tiap sampel tidak mengandung bahan berbahaya, sehingga aman dikonsumsi masyarakat. “Semuanya negatif,” ujar Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapartmi.

Proses pengujian relatif singkat. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam. Uji sampel takjil kali ini difokuskan pada empat kandungan berbahaya. Yakni, Rhodamin B, boraks, formalin, dan metanil yellow.

Menurut Ayu, pantauan rutin dilatarbelakangi hasil uji laboratorium sampel takjil Ramada tahun lalu. Ketika itu, lanjut dia, petugas menemukan banyak makanan mengandung bahan berbahaya di pasar tiban.

“Operasi kali ini yang pertama. Serentak di semua kabupaten dan kota. Semoga hasil negatif juga terjadi di pasar-pasr tiban lainnya,” harapnya. Demi memastikan tak ada makanan berbahaya yang beredar, BB POM DIJ akan menggencarkan razia selama tujuh minggu. Hingga 7 Juli mendatang. Pasar tradisional dan toko-toko modern, serta supermarket juga menjadi sasaran petugas. Termasuk jaringan distribusinya.

Ayu mengingatkan, setiap pemasok bahan makanan dilarang menjual atau mendistribusikan produk yang tidak memenuhi ketentuan (TMK). Misalnya, kemasan rusak, tidak disertai izin edar, atau telah kedaluwarsa. “Kami sudah kirim surat edarannya,” kata dia.

Ditegaskan, bahan-bahan berbahaya bisa berdampak buruk bagi kesehatan konsumen. Rhodamin B, misalnya. Berisiko menumbulkan karsinogenik. Yakni, bahan yang bersifat mengendap, sehingga bisa memicu kanker, terutama pada organ paru-paru. Sebab, Rhodamin B merupakan zat pewarna sintetis yang biasa digunakan untuk tekstil. Bukan untuk makanan.

Ayu mengakui, tidak mudah membedakan produk yang mengandung zat pewarna merah kimia ini dengan makanan berwarna alami secara kasat mata. Meskipun warna produk sama-sama mencolok. Karena itu, setiap konsumen diimbau jeli dan waspada setiap akan membeli produk makanan. Dengan melakukan cek “KLIK” pada kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa. (dya/yog/ong)