RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Kasus penyalahgunaan narkoba masih saja terjadi di wilayah DIJ. Kali ini enam pengguna, sekaligus pengedar barang haram tersebut dicokok apatar Satreskoba Polresta Jogjakarta.

Kasatreskoba Kompol Sugeng Riyadi mengatakan, pengungkapan perkara tersebut berawal dari tertangkapnya DN,23, yang kedapatan mengonsumsi pil aprazolam di kawasan Depok, Sleman.

Kepada aparat DN mengaku mendapatkan pil gendheng tersebut dari seseorang berinisial HS,31, yang berdomisili di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Ternyata benar. Dari penelusuran anggota Satreskoba ke Sukoharjo diperoleh sejumlah barang bukti dari tangan pelaku. Di antaranya, bong alat hisap sabu dan kantong plastik berisi sisa sabu, serta tembakau super bermerek Golden Bear.

“Saat ditangkap HS sedang pesta sabu bersama dua orang pengguna lain (SH dan BH) pada (1/6),” ungkap Sugeng dalam keterangan persnya di Mapolresta Jogjakarta kemarin (5/6).

Tertangkapnya empat orang tersebut tak lantas membuat aparat berpuas diri. Mereka terus melakukan pengembangan dengan mengorek keterangan lebih lanjut terhadap DN.

Lagi-lagi keterangan DN mengarahkan aparat pada pengedar psikotropika. DN mengaku pernah ditawari seseorang dengan inisial HV, 23, berupa obat-obatan terlarang.
Tak mau buang waktu, polisi segera meluncur ke kediaman Selanjutnya aparat kepolisian melakukan penggeledagan di kediaman HV di Umbulharjo, Kota Jogja.

Di rumah HV polisi mendapatkan berbagai jenis psikotropika golongan IV. Di antaranya, 260 butir pil dumolid nitrazepam yang dikemas dalam tigaboks, 15 butir pil rikoloba, 70 butir alprazolam, serta 30 butir ativan lorazepam.

“HV mengaku cuma ditugasi untuk menjualkan barang haram itu oleh pengedar lain berinisial BG,” jelas pamen dengan satu melati di pundak.

Dari pengakuan HV, aparat kepolisian pun berhasil membekuk BG, yang juga berdomisili di Umbulharjo. Namun, polisi tak memperoleh barang bukti dari penggeladahan di rumah BG.
Kendati demikian, BG juga ditahan di sel Mapolresta Jogja untuk diperiksa intensif.

Penyidik menjerat DA dan HS pasal 62 UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Keduanya terancam hukuman penjara lima tahun dan denda Rp 100 miliar.
Sedangkan HV dan BG disangka dengan pasal 62 Jo Pasal 60 ayat 1 Jo pasal 71 ayat 1 UU RI Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 300 juta.

“Untuk SH dan BH selain terancam UU pskitropika, juga kami ajukan ke tim asessment terpadu Kota Jogja karena status mereka hanya sebagai pengguna,” ucap Sugeng. (bhn/yog/ong)