Dulang Rupiah dengan Memori Masa Lalu

Bermodal kenangan masa lalu, dipadu dengan pemikiran kreatif, Kimiyanto Aldi Primayoga membuat miniatur bus jadul. Dari situlah pundi-pundi rupiah mengalir ke kantongnya.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Aroma khas cat minyak begitu menusuk hidung saat kaki melangkah masuk ke dalam rumah Kimiyanto, yang juga menjadi workshop miniatur bus.

Di rumah sederhana itu, Kimi, sapaan akrabnya, tinggal bersama orang tuanya. Dia mengambil satu ruangan untuk menyimpan peralatan dan perkakas produksinya. Sisa-sisa triplek, lem, dan beberapa kaleng cat semprot menjadi pemandangan lumrah di rumah bercat hijau di Demangan Baru, Depok, Sleman, itu.

“Bus Aspada” dia letakkan di atas kursi. Berjejer dengan Kopata. Sedangkan Baker dan satu bus pariwisata model terkini diparkir di bawah almari. Di atas almari tampak beberapa produk setengah jadi.”Awalnya coba-coba. Kalau yang lain membuat bus kekinian, saya justru yang kekunoan,” ujar pemilik label “Kimi Minatur” untuk kreasinya.

Sejak kecil Kimi memang memiliki kekaguman dengan kendaraan otobus. Kenangan masa kecil akan moda transportasi umum begitu membekas pada pria kelahiran 27 Mei 1988 ini. Begitu senangnya naik bus, Kimi kecil sering iseng menggambar bentuk bus yang ditumpanginya dalam goresan pena.

Hingga dua tahun lalu Kimi memperoleh banyak informasi tentang miniatur bus lewat jejaring media sosial. Dari aktivitas mayanya itu Kimi makin jatuh cinta dengan miniatur bus. Bahkan, saking penasarannya, Kimi memutuskan untuk membeli salah satu koleksi milik orang lain.

Untuk memperkaya koleksinya, Kimi tak ingin terus hanya membeli. Dia pun lantas berinisiatif membuat sendiri miniatur bus. Apalagi, dia teringat akan coretan tangan masa lalunya saat menjadi penumpang setia bus kota. Coretan kasar itulah yang menjadi sumber inspirasi Kimi.

Rasa penasaran akan miniatur bus mengantarkan Kimi hingga bertemu dengan komunitas “Small is Sexy, Miniatur Bus Only”. Dengan sering ngumpul bareng dengan anggota komunitas, muncullah ide-ide untuk membuat karya sendiri. Alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta itu pun memulai journey-nya membuat aneka miniatur bus yang pernah ada di Jogjakarta.

Sebagian miniatur bus yang pada masanya menjadi ikon Jogjakarta memang tak lagi beroperasi saat ini. Bus Baker, misalnya. Miniatur bus jurusan Prambanan-Kaliurang itu menjadi karya pertamanya.

Dengan tangan kreatifnya, Kimi pun mampu mengabadikan ikon yang hilang itu dengan skala 1:20.
Ada tantangan tersendiri bagi Kimi dalam memproduksi miniatur bus. Selain bus jadul banyak yang tak lagi beroperasi, sebagian yang masih jalan pun telah mengalami metamorfosis. Bentuknya tak seratus persen otentik dengan aslinya dulu. Terutama cat body.”Memang tak semua bus ada referensinya. Inilah tantangan bagi saya,” ungkap Kimi.

Dua tahun menekuni hobi membaut miniatur bus, nama Kimi mulai dikenal. Awalnya hanya dari mulut ke mulut antarsesama pecinta miniatur bus. Baru setelah Kimi meng-upload foto karyanya melalui media sosial, pesanan dari sejumlah konsumen pun mengalir.

Bahkan ada yang pesan miniatur bus jadul di kota lain. Dari Jakarta pesan Bus Santoso, sedangkan konsumen asal Magelang minta dibuatkan Bus Eka Sapta.

“Ada juga pesanan Bus Aladdin dari Bandung. Tapi busnya sudah nggak jalan. Fotonya sama sekali tidak ada. Referensinya dari yang pesan langsung,” ungkap pria 29 tahun itu sambil tersenyum.

Setiap karyanya hampir mirip bus aslinya. Bahkan, Kimi mengklaim tingkat kemiripannya 98-100 persen.
Bahan utamanya adalah triplek. Dipadu dengan barang-barang bekas. Seperti banner iklan rokok untuk lantai bus, spon, kabel mouse untuk stir, kain perca untuk kursi, serta potongan antena untuk knalpot.

Tiap produk ukuran medium dihargai Rp 850 ribu – Rp 1,2 juta. Sedangkan big bus dibanderol Rp 1,1 juta – Rp 2 juta.
Setiap bulan sedikitnya ada dua orderan yang harus diselesaikan Kimi. Tiap produk dikerjakannya minimal dua minggu. Karena itulah Kimi yang pernah bekerja di sebuah perusahaan perbankan kini pilih fokus dengan bengkel miniatur busnya.”Hasilnya cukuplah untuk menopang hidup,” candanya.

Kimi tak mematok harga khusus untuk setiap pesanan konsumen. Alasannya, setiap pengrajin memiliki kualitas, detail, dan bahan yang beragam. Di Jogjakarta, Kimi mengklaim sebagai satu-satunya yang membuat miniatur bus jadul. Hal itulah yang menaikkan pamornya.

“Kisaran harga itu bergantung speknya. Ada yang standar dengan ban bisa berputar. Ada lagi yang full spek, pintu bisa dibuka dan lampu menyala,” jelas Kimi sambil menunjukan salah satu koleksi karyanya.
Bagi Kimi, langkah paling sulit adalah pengerjaan interior. Menyita banyak waktu karena harus dibuat sedetail mungkin. Mulai dashboard, lantai, jok, jendela, hingga alat pegangan tangan untuk penumpang.(ong)