RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Baru kali ini ujian nasional (unas) SMP/MTs di DIJ hampir tak ada peserta yang memperoleh nilai 100 untuk mata pelajaran (mapel) Bahasa Inggris.

Nilai rata-rata unas secara umum memang mengalami penurunan. Dari empat mapel yang diujikan, rata-rata nilai Bahasa Inggris paling rendah. Di Kota Jogja, misalnya. Total rata-rata unas tahun ajaran 2016/2017 mencapai 271,66. Turun 8,9 dibanding unas 2015/2016 dengan rata-rata total 280,65.

Adapun rata-rata tertinggi mapel Bahasa Indonesia, yakni 80,25. Sedangkan tiga mapel lain, antara lain, Matematika (66,42), IPA (64,76), dan Bahasa Inggris (60,23).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja Edi Heri Suasana berdalih penurunan nilai rata-rata unas terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk tak adanya siswa yang memperoleh nilai sempurna untuk Bahasa Inggris. “Ini jadi bahan pencermatan khusus kami,” ujarnya kemarin (2/6).

Edi menduga, anjloknya hasil unas disebabkan oleh sistem pelaksanaannya yang berbasis komputer. Sistem itu membutuhkan kesiapan ekstra bagi siswa. Meskipun bagi penyelenggara lebih dimudahkan. Karena pemindaian jawaban ujian nasional berbasis komputer (UNBK) bisa lebih cepat dengan tingkat manipulasi sangat kecil. “Bisa juga dipengaruhi dari segi tingkat kesukaran atau bobot soal yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Evaluasi hasil unas akan dilakukan per soal. Dengan begitu, capaian tiap mapel sampai pada butir-burit soal akan terlihat. Sehingga soal yang sama sekali tidak dapat dijawab dengan benar oleh siswa atau sebaliknya bisa terdeteksi. “Kalau soal dijawab benar oleh murid, tapi tidak banyak yang benar, maka harus ada semacam remidi,” jelas Edi.

Hasil unas cukup membuat wakil rakyat di gedung parlemen prihatin. Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Dwi Budi Utomo mengatakan, selain nilai akademik, yang juga patut diperhatikan adalah indeks integritas siswa. Sebab, hal itu juga mengacu pada sistem penilaian pendidikan saat ini yang tidak hanya melihat dari aspek evaluasi pembelajaran siswa. “Nilai itu penting. Tapi aspek kejujuran siswa saat mengerjakan itu juga penting,” tegasnya.

Belum lama ini Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengkalim bahwa hasil penilaian atas integritas penyelenggaraan unas SMP/MTs di DIJ memperoleh hasil tertinggi, 248,43. Penilaian dilakukan kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Kendati demikian, Dwi Budi tetap mendorong adanya evaluasi tidak hanya dari sisi teknis.Faktor nonteknis juga harus jadi perhatian. Seperti masih adanya siswa yang menumpang ujian di sekolah lain. “Secara psikologis hal itu juga akan berpengaruh pada siswa saat mengerjakan soal-soal unas,” beber politikus PKS itu.

Kondisi hampir serupa terjadi di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dari empat mapel yang diujikan, hanya Bahasa Inggris yang tak satu pun peserta unas memperoleh nilai sempurna. Sementara untuk mapel Matematika ada 134 siswa meraih nilai 100. Sedangkan IPA sebanyak 34 dan Bahasa Indonesia 5.

Kabid SMP, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Purworejo Ery Prayitno menyebut, secara nasional tingkat kesulitan soal-soal Bahasa Inggris memang cukup tinggi.

Kendati demikian, hal yang paling disesalkan Ery lantaran sebanyak 38 siswa dipastikan tidak lulus unas. Sebab, mereka tidak mengikuti ujian reguler maupun susulan. “Jumlah ini bisa saja bertambah, jika ada anak yang dinyatakan tidak lulus oleh sekolah,” ucapnya.(pra/udi/yog/ong)