RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ menemukan kandungan berbahaya pada komoditas pasar. Mayoritas adalah teri nasi yang mengandung formalin. Temuan sementara ada enam pasar di Sleman yang teridentifikasi teri nasi berformalin.

Kepala Disperindag Sleman Tri Endah Yitnani mengungkapkan, temuan ini berdasarkan pengawasan selama sepekan. Dari hasil investigasi sementara, para pedagang mengambil teri nasi dari Pasar Beringharjo.

“Ternyata teri nasi hampir merata di pasar-pasar Sleman dan kulakan-nya dari Pasar Beringharjo. Saat ini masih dilacak apakah sumbernya sama atau tidak,” jelasnya kemarin (1/6).

Langkah tegas diambil dengan penghancuran sejumlah barang pangan. Bahkan sebagian stok teri nasi berformalin langsung dibeli oleh tim pengawas. Sementara untuk penjual diberikan sanksi berupa teguran.

Dia menegaskan, penjual harus memperhatikan aspek kesehatan. Penggunaan bahan berbahaya formalin akan berdampak buruk bagi kesehatan. Bahkan mengonsumsi secara berkala dapat menimbulkan sel kanker dalam tubuh.

“Setengahnya kami kembalikan dengan peringatan, jika masih dijual maka izin berjualan di pasar akan kami cabut. Untuk masyarakat khususnya ibu-ibu harus punya pengetahuan untuk mampu memilih makanan yang sehat tanpa tambahan bahan berbahaya,” ujarnya.

Kasus teri nasi berformalin sejatinya tidak hanya teridentifikasi di Sleman. Dalam razia terpisah oleh kabupaten/kota lainnya juga ditemukan kasus yang sama. Sehingga fenomena ini menjadi perhatian penting khususnya BBPOM DIJ.

Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengungkapkan, operasi bahan pangan berbahaya rutin digelar. Terutama memasuki Ramadan. Di mana arus penjualan bahan pangan mengalami peningkatan. Turut menjadi celah pula beredarnya bahan pangan berbahaya.

“Intensifikasi pengawasan pangan sejak 15 Mei sudah kami lakukan. Selain di toko modern juga menyasar pasar tradisional,” ujarnya.

Mengenai temuan teri nasi berformalin masih menjadi kajian timnya. Terutama untuk menemukan sumber distributor utama. Tujuannya agar bisa memutus mata rantai penjualan hingga ke penjual.

“Hasil dari tim lapangan memang masih ditemukan teri nasi berformalin. Kami akan selidiki terus, sementara itu kami mengimbau agar konsumen lebih cermat belanja,” katanya.

Dalam kesempatan ini, dia juga mengungkapkan pengawasan di sejumlah supermarket. Pengawasan difokuskan pada penjualan parcel lebaran. Khususnya layak kemasan, makanan tanpa izin edar dan masa kedaluwarsa makanan.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, tiga kasus tersebut masih mendominasi. Kurangnya ketelitian penjual dalam mem-packing jadi alasan utama. (dwi/ila/ong)