RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Selain dianggap sebagai gerbang narkoba, Jogjakarta sepertinya telah menjadi surga dunianya bursa prostitusi. Ternyata, sebelum menangkap germo “ayam kampus” Adi Kristanata,31, pada Jumat (19/5), polisi lebih dulu meringkus mucikari pemasok pekerja seks komersial bernama Dhika Tirtawilaga, Selasa (16/5).

Meski sama-sama berbisnis melalui jaringan maya, aparat tidak menemukan adanya hubungan antara Adi dan Dhika.

Pria 34 tahun asal Bekasi, Jawa Barat, itu juga menjalankan bisnis haramnya secara online di wilayah DIJ. Dan menyasar pria hidung belang asal Jogjakarta sebagai pelanggan.

Dhika ditangkap aparat Satuan Reserse Krimnal (Satreskrim) Polresta Jogjakarta setelah terbukti menjalankan praktik prostitusi melalui forum di situs semprot.com. Kepada petugas

Dhika mengaku telah menjalankan bisnis esek-esek selama setahun.

Kasatreskrim Polreseta Jogjakarta Kompol M. Kasim Akbar Bantilan mengungkapkan, pelaku biasa menggelar “event” dengan mendatangkan PSK dari berbagai daerah. Sebagian besar perempuan penjaja seks berasal dari Jakarta dan Bandung. Dalam setiap momen pelaku menyediakan tujuh slot yang bisa dipesan pelanggan. “Untuk mendapat slot pelanggan harus membayar uang muka (DP) Rp 200 ribu,” bebernya kemarin.

Selanjutnya, pelanggan dimintai nomor kontak. Pelaku kemudian mengirim pesan singkat yang berisi lokasi atau hotel untuk tempat kencan.

Pembayaran “jasa” esek-esek dibayarkan belakangan. Atau setelah kencan. Sisa uang transaksi yang harus dilunasi sebesar Rp 500 ribu. Dengan pola tersebut pelaku mendapatkan keuntungan Rp 200 ribu per transaksi. “Sehari mucikari ini bisa mendapat keuntungan hingga Rp 2 juta,” jelasnya.

Lebih lanjut mantan Kasatreskrim Polres Bantul ini menjelaskan, transaksi PSK di forumsemprot.com hanya berlaku bagi anggota terdaftar. Hingga sekarang tak kurang 50 anggota asal DIJ aktif sebagai anggota.

“Bahkan belum lama ini pelaku sempat mengadakangathering anggota baru di sebuah lokasi di kawasan Kaliurang, Sleman,” kata Akbar.

Selain anggota forum, hadir pula beberapa PSK yang oleh tersangka disebut tersangka sebagai rekan kerja.

“Dari pengakuan pelaku, mereka berpesta di sana (Kaliurang),” lanjutnya.

Proses penangkapan Dhika hampir mirip saat aparat meringkus Adi Kristanata. Polisi menjebaknya di salah satu hotel di Kota Jogja.

Dari tangan tersangka, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa uang tunai Rp 2 juta, kondom berbagai merek, satu pak magic power, sebuahhandphone, gel pelumas, dan kartu ATM.

Barang bukti tersebut cukup bagi aparat untuk menetapkan Dhika sebagai pelaku tindak pidana prostitusi dan perdagangan manusia.

Dia dijerat pasal 296 KHUP serta 506 KUHP dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sementara itu, Dhika mengaku, para PSK yang “dijual” berasal dari jaringan telah dikenalnya. Dia mengaku cukup akrab dengan dunia prostitusi karena dulunya juga sebagai pelanggan.

“Saya kenal dari perempuan lain yang menawarkan PSK yang minta dibuatkan ‘event’. Dari perkenalan ini bisnis berjalan,” katanya.

Di hadapan penyidik, Dhika berdalih hanya memiliki delapan “rekan kerja” yang biasa ditawarkan kepada pelanggan. “Transaksi hanya di Jogjakarta. Kadang kumpul-kumpul antarpelanggan supaya lebih guyub,” ucap dia.(bhn/yog/ong)