JOGJA – Ahli matematika asal berbagai negara berkumpul di Kampus UNY, Selasa (16/5). Kedatangan para pakar ini untuk mempresentasikan hasil penelitian dan karya ilmiahnya pada forum The 4th International Conference on Research, Implementation and Education of Mathematics and Science (4th ICRIEMS) yang diselenggarakan oleh FMIPA UNY.

Para pakar itu adalah Assistant Prof Maitree Inprasitha dari Faculty of Education, Khon Kaen University; Dr Liem Peng Hong dari Nippon Advanced Information Service (NAIS Co., Inc.); dan Dr Jean W. H. Yong dari Plant Eco-Physiologist and IUCN Mangrove Red List coordinator University of Western Australia and Curtin University, Perth, Australia.

Kemudia Profesor Dr Nor Azowa Ibrahim dari Universiti Putra Malaysia; Prof Khajornsak Buaraphan dari Mahidol University Thailand, serta Prof Dr Zuhdan Kun Prasetyo dari FMIPA UNY.

Dalam kesempatan itu, Liem Peng Hong yang membawakan materi tentang Nuclear Energy Human Resource Development in Post Fukushima Dai-Ichi NPP Accident. Liem Peng Hong membahas tentang akademisi Jepang sedang menghadapi isu dan tantangan mengenai energi nuklir pascakecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Dai-ichi Maret 2011. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah sedang merancang kurikulum baru, baik untuk jurusan energi nuklir maupun non-energi nuklir.

“Kurikulum salah satu cara untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat tentang engergi nuklir,” kata Liem Peng Hong.

Pemerintah tetap akan menggunakan engergi nulir. Agar kecelakaan tidak terulang, pemerintah akan meningkatkan sistem keselamatan PLTN, mempromosikan pengetahuan dan informasi tentang efek radiasi, dan riset dasar dan pengembangan pada penon-aktifan PLTN. Selain itu, kurikulum akan membahas tentang pemindahan bahan radioaktif di lingkungan terjadinya kecelakaan dan menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas yang diperlukan untuk menon-aktifkan PLTN dan pemulihan kontaminasi nuklir, dan lain sebagainya.

Dalam survei yang dilakukan berbagai media massa pada 2010 terungkap, masyarakat Jepang masih ada yang menganggap negatif terhadap PLTN yaitu mencapai 40 persen. Setelah kecelakaan Fukushima, poling yang sama yang dilakukan dari Maret 2011 hingga Maret 2012 menunjukkan bahwa opini negatif meningkat dengan tajam hingga 70 persen.

Anehnya, setelah kecelakaan terjadi, 60 persen menyetujui bahwa keberadaan PLTN di Jepang memang diperlukan meski ada pula masyarakat yang menentang pembangunan PLTN yang baru. Setelah kecelakaan, kebijakan energi di Jepang berdasarkan perkiraan demand dan supply tahun 2030 merekomendasikan bahwa kontribusi PLTN terhadap listrik di Jepang harus dikurangi dari sekitar 30 persen (sebelum kecelakaan) menjadi 20-22 persen pada 2030.

“Kekosongan yang diakibatkan oleh pengurangan ini dialihkan ke sumber energi terbarukan lainnya seperti solar dan angina,” jelasnya.

Sementara itu, Prof Maitree Inprasitha menyampaikan materi tentang An Open Approach Incorporating Lesson Study: An Innovations For Teaching Whole Number Arithmetic. Dr Maitree menerangkan, pendekatan tradisional dalam pembelajaran matematika di Thailand hasilnya kurang memuaskan.

Contohnya, siswa-siswa kelas 1 sekolah dasar belajar untuk mendapatkan pemahaman yang bermakna mengenai aritmetika bilangan bulat melalui aktifitas matematika yang diajarkan oleh guru yang menggunakan pendekatan terbuka. Setelah berusaha selama beberapa dekade, Thailand sebagai negara berkembang yang mengadaptasi ide-ide dari negara maju akhirnya dapat mengatasi satu masalah berkepanjangan dalam pembelajaran matematika, khususnya untuk aritmetika bilangan bulat di tingkat sekolah dasar.

“Matematika di sekolah telah berubah dari pembelajaran pasif ke pembelajaran aktif, dimana siswa terlibat dalam matematika yang lebih bermakna,” jelasnya. (mar)