RADARJOGJA.CO.ID – Persoalan mendasar dunia pendidikan adalah masih kurangnya guru yang kompeten, kekurangan buku ajar, dan dukungan minim orang tua. Selain itu, masih rendahnya kemampuan pelajar dalam bidang sains dan matematika serta munculnya tantangan narkoba, radikalisme dan separatisme.

Demikian disampaikan Direktur Pembelajaran Kemenristek Dikti Paristiyanti dalam Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru dan Problematika Guru Masa Depan di UNY Kampus Wates, Sabtu (6/5). Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) belum terstandar.

Agar kualitas guru dari LPTK terstandarisasi, perlu revitalisasi LPTK. LPTK yang terakreditasi A baru 7 persen. Sedangkan yang belum terakreditasi 35 persen. Revitalisasi LPTK difokuskan pada standar pendidikan guru, sistem rekrutmen calon guru berdasarkan minat dan bakat serta kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

“Semua itu harus didukung sumber daya dosen yang berkualitas, sekolah laboratorium dan sekolah mitra serta sistem penjaminan mutu khas LPTK,” kata Paristiyanti.

Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Anas mengatakan keberhasilan anak didik dipengaruhi kompetensi guru. Semua PNS guru diangkat melalui tes yang terstandar. Termasuk untuk para honorer guru yang akan menjadi PNS melalui tes dengan passing grade yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan untuk menjaga profesionalisme guru.

Menurut Anas, sejak 2016 tidak ada guru yang diangkat tanpa sarjana S1 dan sertifikat pendidik. Kebutuhan guru yang sangat mendesak untuk sekarang ini adalah guru SMK untuk spesifikasi kelautan dan kemaritiman, pertanian, pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Salah satu cara mengatasi defisit guru dengan memberikan sertifikasi keahlian atau sertifikat ganda bagi guru yang produktif dan juga tes minat dan bakat,” ujar Anas.

Ahli Pendidikan dan Guru Besar FE UNY Suyanto mengatakan menjadi guru profesional harus memiliki karakter kuat. Menjadi pembelajar yang kuat.

“Guru profesional harus inovatif, memiliki jaringan luas serta menguasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Seorang guru profesional mampu menginspirasi anak didiknya,” ungkap Suyanto.

Wakil Rektor I Margana mengatakan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan program yang diminati lulusan S1. Karena ada lulusan S1 belum bisa menjadi guru jika tidak mengikuti PPG.

“Semoga kegiatan ini dapat sebagai media sharing bagi mahasiswa dan guru tentang kebijakan pemerintah,” kata Margana. (tom/iwa/mar)