RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Desa Gilangharjo kemarin (20/4) menjadi salah satu tujuan rombongan ratusan orang dari berbagai negara keturunan Jawa. Tujuannya untuk mempelajari sejarah cikal bakal kerajaan Mataram.

Ada beberapa lokasi yang menjadi tujuan rangkaian kegiatan Javanese Diaspora Event III ini. Di antaranya, Petilasan Pasujudan Gilang Lipuro atau Petilasan Selo Gilang. Di lokasi inilah Danang Sutawijaya bermunajat pasca dihadiahi tanah Mataram oleh kerajaan Pajang.
Menurut Koordinator Grup Suriname Ndek Londo Jakiem Asmowidjoyo, mempelajari sejarah Mataram penting. Begitu pula dengan sejarah tanah Jawa.
Sebab ratusan orang yang tergabung dalam rombongan ini merupakan keturunan Jawa. Meskipun mereka lahir dan tinggal di berbagai negara. Seperti Suriname, Belanda, Meksiko, Australia, Singapura dan Malaysia.
“Buyutku seko Mojokerto. Digowo nang Suriname tahun 1898 (Kakek buyut saya dari Mojokerto, Dibawa ke Suriname 1898),” ucap Jakiem di sela kunjungan dengan dialek Jawa cukup kental.
Bagi pria berkewarganegaraan Belanda ini, kedatangannya ke Indonesia ini bukan yang pertama. Jakiem telah datang hingga lima kali. Tujuannya mencari asal keluarganya. Antara lain ke Mojokerto dan Nganjuk. Namun pencarian Jakiem ini tak membuahkan hasil.
“Aku wes ndek Nganjuk goleki sedulur simbah lanang. Ning, desane wes ora ono (Saya sudah ke Nganjuk mencari saudara kakek. Namun desanya sudah tidak ada),” tuturnya.
Kendati begitu, Jakiem tak begitu kecewa. Menyusul terbentuknya berbagai komunitas warga keturunan Jawa dari berbagai negara.
“Kabeh sing ndek komunitas saiki dulurku (Semua yang di komunitas sekarang saudaraku),” ucapnya diikuti senyum.
Pria berusia 66 tahun ini bercerita komunitas ini awalnya hanya beranggotakan empat orang. Berkat intensnya komunikasi melalui media sosial, anggotanya saat ini mencapai ribuan.
Ketua Desa Wisata Gilangharjo Supriyanta menambahkan, selain ke petilasan rombongan juga berkunjung ke kantor Desa Gilangharjo. Di sini, rombongan disuguhi pementasan sendratari Lintang Johar.
“Mereka bisa bahasa Jawa. Sehingga kami tak perlu pakai Bahasa Inggris,” ujar Supriyanta terkekeh. (zam/iwa/ong)