Berbekal Resep Keluarga

SLEMAN- KEINGINAN mandiri secara finansial diwujudkan oleh kakak beradik Noviyanti Tiolemba (33) dan Lidya Tiolemba (37) melalui usaha kuliner. Mereka yang juga berstatus ibu rumah tangga itu mengawali semuanya dari hobi mereka yang suka makan dan memasak. Ternyata kakak beradik yang semula ingin mengasah skill memasak itupun kebablasan dan sukses merebut hati para penikmat ikan.

Kakak beradik Noviyanti dan Lidya saat ini membuka usaha rumah makan Ikan Bakar Katombo yang berlokasi jalan Rogoyudan I No 8 Sleman. “Kami berdua seneng makan, terutama ikan laut. Di Jogja, masakan ikan yang kami temui kok tidak ada yang sesuai selera,” kata perempuan yang kerap disapa Yanti ini, Rabu (19/4).

Rumah Makan Ikan Bakar Katombo ini cukup istimewa berbahan ikan. Spesialisasinya masakan rumahan dengan bumbu khas Sulawesi Tengah, Poso. “Ini sebenarnya resep keluarga,” imbuh Lidya saat ditemui restonya. .

Sistem pemasaran yang mereka tempuh juga cukup sederhana yaitu pemasaran konvensional. “Promosinya cuma dari mulut ke mulut aja, dan responnya cukup bagus. Setelah merasa cocok di lidah mereka mengacungi jempol. Itu yang membuat kita jadi lebih semangat,” papar Yanti yang sebelumnya membuka usahanya di Jalan Kaliurang.

Rumah Makan Ikan Bakar Katombo di Jalan Regoyudan mereka mulai sejak 5 Januari 2017 lalu dengan mengangkat konsep rumah makan keluarga dan mahasiswa. “Respon pelanggan sangat bagus. Rata rata mengaku masakan ikan di sini tidak amis, padahal bahannya ikan laut,” katanya.

Jenis ikan yang diolah cukup beragam. Mulai ikan Kerapu, Baronang, Ikan Kue, Ikan Napoleon, Kakap Putih, Kembung, dan masih banyak lagi jenis ikan lainnya. Semua jenis ikan itu mereka olah dengan bumbu minimalis, cukup garam dan jeruk nipis. Baik ikan masak woku, aneka olahan seafood, serta sayur.
Sementara menu favorit di Ikan Bakar Katombo di antaranya, Ikan Masak Pedas, dan Ikan Masak Woku. Demikian juga sayur tumis kangkung bunga pepaya, serta dan tumis pakis.”Soal harga memang beragam karena ikan kami hitung per ons,” ujar Lidya.

Dikatakan, banyak pelanggan yang menanyakan arti nama Katombo, padahal sebenarnya ikan tersebut sering mereka konsumsi. “Katombo itu bahasa Poso yang artinya Ikan Kembung,” katanya.

Melaluri rumah makan tersebut, kakak beradik Yanti Lidya merasa bersyukur, karena mereka yang sejak SD sudah terpisah jauh ini bisa berkumpul kembali, dan setiap hari bangun pagi untuk belanja ikan. “Pukul tiga pagi saya dan Lidya udah sampai di mencari ikan segar. Karena waktu itu belum punya supplier tetap. Sehingga harus berebut untuk mencari yang paling baik,” katanya mengenang.

Sedangkan untuk menjaga konsistensi rasa yang pas, Yanti dan Lidya turun tangan mengolah atau memasak sendiri. “Apalagi saat grand opening, pelanggan membludak, kami harus turun tangan sampe kuku patah- patah kena duri ikan, dan baru sadar kalo tangan dan kaki kami hitam karena kena arang,” kenang Lidya sambil tertawa.
Mereka cukup puas dengan usaha tersebut karena bermodal awal Rp 50 juta dan terus berkembang. “Perlu kerja keras dan semangat untuk terus belajar. Ternyata hobi masak kami itu ada manfaatnya dan mendatangkan uang” imbuh Yanti. Terkait peran perempuan di masa kini, menurut Lidya mereka (perempuan, Red) bisa mengoptimalkan apapun yang dikuasai, meski itu berangkat dari sekadar hobi, menjadi sesuatu yang berarti. “Kita jadi punya penghasilan sendiri, tidak selalu meminta uang dari suami. Kita belajar mencukupi kebutuhan sendiri, atau sekadar bisa membelikan jajan anak,” katanya. (*/met/ong)