RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Potensi longsor masih mungkin terjadi di Dusun Jeruk, Gerbosari, Samigaluh, Kulonprogo membuat pemerintah daerah tak mau mengambil risiko. Sebab, peristiwa itu telah mengancam sembilan rumah, delapan kepala keluarga (KK) dan 28 jiwa.
“Kami telah pasang early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini pada tiga lokasi yang akan berbunyi sebagai tanda pergerakan tanah,” ujar Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Krido Suprayitno di sela melakukan kunjungan ke lokasi (21/4).
Menurut dia, EWS itu dipasang di titik paling bawah yang mengancam langsung ke Dusun Manggis sehingga penduduk setempat sebanyak lima KK ikut mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Sebelumnya, sebanyak delapan KK dan 28 jiwa warga Dusun Jeruk lebih dulu mengungsi.
Hujan dengan durasi selama dua jam pada pada Rabu (19/4) malam sekitar pukul 20.00 mengakibatkan pergerakan tanah yang signifikan. Dari perkiraan lapangan terjadi penurunan 30 hingga 50 cm sehingga EWS berbunyi.
“Keadaan tanah yang mengkhawatirkan perlu penanganan, terutama di lokasi yang paling tinggi tebingnya. Penurunan tanah antara 4 hingga 6 meter,” jelas birokrat yang pernah menjadi Camat Turi, Camat Berbah dan Camat Depok, Sleman ini.
Krido mengatakan Jeruk ternyata memiliki tipologi yang sama dengan longsor di Ponorogo, Jawa Timur. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi segala kemungkinan harus dilakukan.
Menyikapi itu, rekomendasi penanganan yang disampaikan berupa asesmen yang melibatkan Fakultas Geologi UGM dan rembuk warga yang akan dilakukan Sabtu (22/4).
Krido menambahkan, sudut luncur terjadi antara 40 sampai dengan 60 derajat dengan kemungkinan jarak luncur longsor sekitar satu kilometer yang mengancam permukiman.
Di lokasi juga ditemukan sumber mata air yang baru. Terkait dengan dua rumah yang terdampak langsung, BPBD DIJ mengusulkan rencana program bantuan rehabilitasi pascabencana.
Menanggapi adanya ancaman longsor di Samigaluh itu, anggota DPRD DIJ Hamam Mustaqim meminta agar warga yang berada di zona bencana itu segera dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Legislator dari Dapil Kulonprogo ini juga setuju dengan pendapat Kepala Laboratorium Pusat Geologi Jurusan Teknik Geologi UGM Wahyu Wilopo yang mengingatkan, relokasi bukan sebatas persoalan jarak dari titik longsor. Namun pada lokasi yang benar-benar aman dari longsor.
“Relokasi harus memerhatikan aspek sosial dan budaya setempat,” kata Hamam. (tom/kus/iwa/ong)