RADARJOGJA.CO.ID – Kiprahnya di dunia seni rupa mungkin belum banyak diketahui. Namun sejatinya, ia banyak terlibat dalam pameran bersama. Perempuan ini mulai aktif di jagat seni rupa sejak 2015, di mana ia giat bareng perupa lain menggelar pameran bersama di berbagai tempat. Di antaranya, di Surabaya dan Jogjakarta. Salah satunya bersama komunitas seni ‘Wedhangan‘.

Jika dirunut, kehadirannya sebagai perupa sudah dimulai sejak kecil. Saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), Astuti sudah banyak diperhatikan. Setiap ada lomba menggambar atau melukis, tak pernah ia tak menyabet gelar juara. Dalam lomba menggambar Sirkit Piala Affandi yang diadakan di tiga kota yaitu Jogja, Solo dan Surabaya misalnya, Astuti meraih juara II. Kemudian lomba melukis dalam Rangka HUT Dewi Sartika Astuti meraih juara I. Tercatat karyanya pernah mengikuti kompetitisi pameran keliling Asia. Di tahun yang sama, ia meraih silver medal dalam rangka Children Art Competition di Shankar India .

Melihat latar belakang di atas, Astuti bisa dibilang mempunyai bakat. Baginya bakat merupka anugerah Tuhan yang harus disyukuri, dirawat, dan ditekuni. maka, pameran ‘Seratan Luru Raos’ yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta pada 21 April 2017 merupakan ungkapan perwujudan rasa syukurnya.

“Seratan Luru Raos, sebuah catatan perjalanan saya dalam belajar, berproses kreatif dalam berbagai bahan dan media seni dengan melalui, tentang dan dalam “rasa” yang saya wujudkan dalam sebuah pameran ini kesemuanya tiada lain yang lebih pantas selain sebagai wujud rasa syukur saya atas pemberian bakat dan anugrah dari Nya,” kata Astuti, Selasa (18/4).

Astuti meneruskan, luru, secara etimologi berarti memburu. Namun dalam bahasa Jawa, kontekstual menjadi belajar atau memburu ilmu. Jika dijadikan secara diglosif, arti pada bahasa pustakanya hampir sama dengan kata ngudi. Namun kata “ngudi” agak kurang dinamis jika dibandingkan dengan luru. Sedangkan Raos dalam bahasa Jawa lebih dalam dari sekedar kata “rasa”. Raos itu merasakan dengan atma. Jadi tidak sekedar merasakan indera, tetapi juga secara empati.

Lebih lanjut dikatakan, kehidupan dengan perjalanan pahit getir yang dirasakan banyak memberikan dan melahirkan kepekaan batin, imajinasi, perenungan, dan ide-ide dalam berkarya yang kesemuanya diharapkan sebagai titik tertinggi dari raos terhadap diri sendiri, raos terhadap proses, maupun produk sosial yang saat ini bergejolak.

Melalui raos-nya, Astuti ingin membaca dunia sosial melalui nilai-nilai luhur dan tradisi. Ia mencoba membaca sosok wanita melalui raos dengan keindahan dan semangat juangnya seperti gunung-gunung yang merupakan angannya. Yakni, tercapainya titik yang tertinggi, juga sebagai instrumen dalam rangka mengintropeksi diri. Dalam hal ini gunung ibarat hati, ketinggian gunung tak ada yang bisa menandingi.

“Di kala Sang Ego sedang melanda manusia, seperti kemarahan luapan emosi atau apapun bentuk perilaku negatif, akan menghancurkan manusia itu sendiri,” ungkapnya.

Lebih lanjut Astuti mengungkapkan, beberapa makhluk adalah jiwanya. Juga raosku sendiri yang kadang tidak stabil, kadang belum pernah dijumpai. Warna kesempurnaan pun tengah dicari melalui instrumen raosku.

Aku, tegas Astuti, tetap luru raos lewat kawruh dan luru kawruh tentang dunia melalui raos-ku. Saat kutemui sosok wanita, yaitu ibuku, menurut Astuti, kucoba raos-ku membaca raos ibu karena aku pun juga seorang ibu yang harus memberi raos pada anak-anakku.

“Dengan lukisan ini pula ingin kubeberkan raos: raos angan, raos sedih, raos gembira/suka maupun raos kegelisahan. Semoga raosku bisa kubaca sendiri sebagai refleksi atas hidupku. Kucoba juga temui Gusti melalui raos. Mudah-mudahan momentum 21 April ini, menjadi tonggak penting berbagi pengalaman dalam berproses dengan ketekunan dan keteguhan,” tuturnya.

Bambang Herras, teman perupa asal Bojonegoro mengaku kagum dengan karya-karya Astuti.

“Jujur, saya kagum ketika melihat karya-karyanya yang dengan gaya agak naif, teknik yang tinggi, warna-warna yang matang dengan sapuan yang kuat seolah-olah muncul dengan sendirinya,” ujar Herras.

Sementara itu, perupa Nasirun berpesan, hendaknya jangan cepat puas, setelah berhasil menggelar pameran tunggal. Tantangannya, sejatinya, setelah pameran ini apakah ada semangat untuk terus mencari, mencari, dan mencari. Sebab, orang biasanya terjebak merasa puas setelah berhasil menyelenggarakan pameran tunggal.

“Janganlah ambisi mencari popularitas tapi ambisilah pada proses,” kata Nasirun.(hes/dem)