RADARJOGJA.CO.ID – Tata sosial kehidupan di Jerman tak perlau diragukan. Di setiap bidang sudah terjadi keteraturan. Hal tersebut ternyata tak serta-merta hanya karena kepatuhan warga Jerman aturan yang berlaku.

Ada proses pendidikan yang membentuk warga Jerman bisa teratur. Hal tersebut diungkapkan Thomas Schmittinger dari Katharineum Zu Lubeck, salah satu sekolah tertua di Jerman. Ia memberikan kuliah umum kepada mahasiswa pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Kamis (13/4), di Kampus UAD.

Dalam papaarannya, Thomas menerangkan, sistem pendidikan di Jerman sangat menekankan kompetensi siswa. Ada empat hal yang wajib dilakukan di sekolah. Pertama, fakta kompetensi, metode kompetensi, sosial kompetensi, dan kompetensi diri.

Keempat hal ini menjadi pilar dari pendidikan di Jerman sehingga membuat warga secara sosial berkompeten. Mereka pun bisa menjadi orang yang paling baik dalam bersosial dengan orang lain. Begitu pun saat menghadapi masalah, secara mandiri setiap siswa diharapkan bisa menyelesaikan masalahnya.

Terhadap keterbukaan ada perbedaan di Jerman Selatan dan Utara. Di Jerman Selatan para siswa tidak diperkenankan membawa smarphone. Jika ada siswa yang membawa smarphone mereka tidak diperkenankan mengoperasikan smarphone.

“Smartphone hanya boleh digunakan ketika guru meminta mencari bahan pelajaran yang ada di google,” kata Thomas.

Selain melarang siswa mengoperasikan smarphone, handphone yang dibawa siswa tidak boleh membuat media social seperti facebook, twitter termasuk menerima dan mengirimkan pesan singkat (SMS). “Jadi, saat di sekolah para siswa murni belajar tidak boleh menggunakan handhpone,” terangnya.

Disisi lain, Thomas menceritakan mengenai keaktifan siswa di sekolah. Sejak dibangku sekolah dasar, para siswa sudah diajarkan tiga bahasa yaitu Spanyol, Perancis, dan Yunani. Sejak dini para siswa sudah diajarkan tiga bahasa karena mereka hidup diantara tiga negara tersebut. Sehingga, kelak ketika berinteraksi dengan warga dari tiga negara itu mudah berinteraksi.

“Belajar Bahasa Yunani juga untuk memudahkan ketika belajar agama di gereja-gereja,” terangnya. (mar)