RADARJOGJA.CO.ID – Saat berobat ke dokter, ada kebiasaan masyarakat yang meminta suntik. Padahal, pasien yang berobat tidak harus disuntik. Fenomena ini sempat ramai pada beberapa tahun lalu. Dan kini, kebiasaan itu sudah mulai menghilang.

“Tahu dari mana kebiasaan meminta suntik ini hilang, tiada bukan dari Jogjakarta. Mengapa bisa begitu? Karena tingkat pendidikan masyarakat soal kesehatan cukup bagus,” kata Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr Harry Paraton SpOG(K) saat menjadi pembicara dalam forum capacity building dan edukasi yang digagas Pfizer di Hotel Santika Premiere Jogja, Minggu (9/4).

Harry meneruskan, kini kebiasaan pasien meminta disuntik sudah mendekati nol persen. Ia memperkirakan tinggal 1 persen saja masyarakat yang masih meminta untuk disuntik. Bagi dokter, kebiasaan menyuntik juga mulai hilang.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini melihat fenomena tingkat pengetahuan dan pendidikan masyarakat Jogjakarta soal kesehatan seperti masyarakat di Srilangka. Secara kesejahteraan dan kekayaan, masyarakat di Jogjakarta boleh dibilang tidak kaya-kaya amat. Namun, dari sisi edukasi kesehatan, harus diacungi jempol.

“Masyarakat Srilangka juga masuk kategori masyarakat miskin. Namun tingkat edukasi kesehatannya cukup bagus,” katanya.

Demikian juga dengan soal komite yang ditangani, yakni Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) yang dibentuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2014. Harry menegaskan, kebiasaan penggunaan antibiotik yang sembarangan tengah dilawan dengan melakukan edukasi. Ia yakin, dari Jogjakarta, persoalan edukasi penggunaan antibiotik yang lebih terkontrol mampu berjalan mulus.

“Saya juga berharap, dari Jogjakarta, masyarakat mengetahui dan menyadari bahaya penggunaan antibiotik yang sembarangan dan edukasi ini menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia,” tegasnya.

Public Affairs and Communication Director PT Pfizer Indonesia Widyaretna Buenastuti menegaskan, Pfizer sebagai penyedia obat-obatan antiinfeksi dan antifungal (anti-jamur) berkomitmen mencari cara baru meningkatkan portofolio obat antiinfeksi di seluruh dunia.

“Pfizer memahami bahaya antimicrobial resistance (AMR) terhadap kesehatan masyarakat dan telah melakukan langkah signifikan untuk menghadapi langkah tersebut. Awal 2016, Pfizer menandatangani Deklarasi Pemberantsan AMR/Declaration on Combating AMR, gerakan berskala internasional. gerakan ini didukung 100 perusahaan dan 13 organisasi perdagangan yang mendukung kerja sama antara perusahaan dan instansi pemerintah untuk menangani masalah AMR,” katanya.

Tindak lanjut dari itu, lanjut Widyaretna, September 2016 Pfizer bersama 13 perusahaan industri farmasi merilis Industry Roadmap to Combat Antimicrobial Resistance, yaitu rencana tindakan komprehensif yang terdiri dari empat komitmen utama Pfizer mengurangi peningkatan resistance antimikroba yang akan direalisasikan hingga 2020,” katanya.(hes/dem)