RADARJOGJA.CO.ID – Resistansi antimikroba (Antimicrobial Resistance/ AMR) menjadi tantangan dan isu kesehatan masyarakat saat ini.

Karenanya, penggunaan antibiotik yang bijak menjadi solusi. Dengan penggunaan antibiotik yang tidak sembarang, bisa mengurangi khususnya komplikasi infeksi akibat bakteri multi resisten.

“Penggunaan antibiotik yang bebas di masyarakat yang tidak sesuai indikasi, mengakibatkan meningkatnya resistensi antibiotika secara signifikan,” kata Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr Harry Paraton SpOG(K), di Hotel Santika Premiere Jogja, Minggu (9/4).

Harry mengungkapkan, data Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada 2014 ada 480 ribu kasus baru multidrugresistent tubreculosis (MDR-TB) di dunia. Sebanyak 700 ribu kematian per thun akibat bakteri resisten. Selain itu, berdasarkan laporan the Review of Antimivrobial Resistance) memperkirakan jika tidak ada tindakan global yang efektif, AMR akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahun pada 2050. Angka ini melebihi kematian akibat kanker. Yakni, 8,2 juta per tahun dan bisa mengakibatkan kerugian global mencapai US Dollar 100 triliun.

“Data ini menunjukkan resistensi antimikroba memang telah menjadi masalah yang harus segera diselesaikan dan perlu adanya peningkatan kesadaran di masyarakat mengenai resistensi antibiotik,” katanya.

Ia mengingkatkan, penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak sesuai indikasi, jenis, dosis, dan lamanya, serta kurangnya kepatuhan penggunaan antibiotik merupakan penyebab timbulnya resistensi.

“Selain itu, penyebab banyaknya kasus resistensi antibiotik dipicu mudahnya masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter di apotik, kios, atau warung. Harusnya, antibiotik tidak dijual bebas dan harus berdasar resep dokter. Menyimpan antibiotik di rumah, memberi antibiotik kepada keluarga, tetangga, atau teman merupakan kebiasaan yang banyak dijumpai di masyarakat. Ini justru mendorong terjadinya resistensi antibiotik,” katanya.

Diakui oleh dokter lulusan Universitas Airlangga ini, antibiotik memiliki peran penting dalam dunia kedokteran. Karena menyembuhkan banyak kasus infeksi. Namun intensitas penggunaan antibiotik yang tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan. Terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Selain berdampak pada morbiditas dan mortalitas, juga memberi dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi.

“Ingat, tidak semua penyakit infeksi perlu ditangani dengan memberi antibiotik, penggunaan antibiotik semata hanya untuk mengobati penyakit yang disebabkan infeksi bakteri. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, bukan mencegah atau mengatasi penyakit akibat virus,” paparnya.

Di Indonesa, imbuh Harry, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia komit dalam pengendalian AMR. Salah satunya dengan membuat Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) tahun 2014. Juga melaksanakan program pengendalian resistensi antimikroba di 144 rumah sakit rujukan nasional dan regional, serta puskesmas di 5 provinsi pilot project.

“Tantangan ini tidak mudah. Karena bukan saja melibatkan pasien atau dokter, tetapi juga melibatkan industri farmasi, industri rumah sakit, kepentingan bisnis, dan kesadaran masyarakat. Karena itu butuh melibatkan banyak institusi. Mulai pemerintah, institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, dan perusahaan farmasi,” katanya.

Sementara itu, Public Affairs and Communication Direktor PT Pfizer Indonesia Widyaretna Buenastuti mengatakan, perusahaan Pfizer komit menjalankan kegiatan dana operasionanya demi masyarakat Indonesia yang lebih sehat. Pfizer juga mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik untuk mencegah munculnya resistensi antimikroba.

“Salah satunya dengan mengadakan kegiatan Pfixer Press Circle dengan topik resistensi antibiotik. Kami menghadirkan pakar kesehatan dan mengajak jurnalis berdiskusi mengenai pentingnya kesadaran mengenai resistensi dan kepatuhan penggunaan antibiotik yang tepat. Harapannya, masyarakat lebih teredukasi soal penggunaan antibiotik yang terkendali dengan dosis yang tepat. Masyarakat diajak untuk tidak membeli atau mengkonsumsi obat antibiotik tanpa resep dan anjuran dokter,” katanya.(hes/dem)