Pakai Pewarna Alami, Pandawa Lima untuk Varian Rasa

Siapa yang tak suka makan mi instan? Selain praktis, rasa mi bikin ketagihan penikmatnya. Sayangnya, kebanyakan mi yang dijual di pasaran mengandung MSG dan bahan pengawet. Melihat fakta ini, dua siswi MAN 2 Jogja, Aura Nilam Sari dan Hanifa Noor, membuat mi sehat berbahan biji alpukat.
VITA WAHYU HARYANTI, Jogja
“Masyarakat pada umumnya akan membuang biji alpukat setelah mengambil daging buahnya. Oleh sebab itu, kami mengolah biji alpukat menjadi mi sehat agar lebih bermanfaat dan bisa dikonsumsi kembali,” jelas Nilam di sekolahnya (5/4).

Di dalam biji alpukat terkandung 23 persen pati yang merupakan bahan utama dalam pembuatan mi. Uji coba pembuatan mi yang diberi nama Mie Baper Camil (Mi Rainbow Persea Americana Mill) ini membutuhkan waktu sebulan dengan menggunakan empat biji alpukat yang diolah bersama 1 kg tepung terigu, dua telur, dan satu sendok garam.

Mereka juga menggunakan pewarna alami seperti wortel, buah naga, kunyit, dan daun kelor. Dalam uji coba, siswi kelas XII ini mengatakan dapat menghasilkan 30 kemasan mi seberat 160 gram/kemasan.

Terdapat lima varian rasa yang dikembangkan kedua siswi yang berhasil masuk 10 besar Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) UII 2017 awal April lalu. Nama tokoh pewayangan Pandawa Lima dipilih menjadi nama lima varian rasa tersebut.
Mie Puntodewo memiliki rasa original tanpa pewarna, mi Nakula berwarna oranye wortel, mi Sadewa berwarna ungu buah naga, mi Bima mempunyai warna kuning dari kunyit, dan mi Arjuna berwarna hijau hasil pewarnaan daun kelor.

Hanifa menambahkan, pembuatan mi yang mereka jual seharga Rp 6 ribu itu sangat mudah dan sederhana. “Biji alpukat dicuci terlebih dahulu, dikupas kulit arinya, kemudian diparut,” ungkap siswi kelas XI ini.

Hasil endapan parutan itu kemudian dikeringkan dalam oven selama 30 menit. Setelah kering dan jadi pati, mereka mengolahnya menjadi adonan dengan campuran tepung terigu, telur, garam, dan pewarna alami.

“Setelah itu digiling jadi mi kemudian dijemur selama sehari. Mi ini bisa bertahan hingga satu bulan karena kami tidak menggunakan bahan pengawet,” tambah Hanifa.

Tak hanya sampai di situ, mereka juga membuat bumbu mi dengan bahan yang biasa kita gunakan seperti garam, laos, kunyit, bawang merah, bawang putih, gula pasir, dan ketumbar yang digoreng dan dikeringkan. Kemasan minya sendiri terbilang unik, karena menggunakan desain batik Parang sebagai penghargaan akan kearifan lokal Jogjakarta.

Guru pembimbing Karya Tulis Remaja (KIR) MAN 2 Jogja, Exwan Adriyan mengungkapkan, pihak sekolah akan berupaya memfasilitasi dan memberikan pembinaan kepada siswa yang berpotensi di bidang penelitian. “Saat ini lebih dari 20 siswa ikut ekstrakurikuler KIR, baik untuk eksakta maupun non-eksakta,” ujarnya.

Pada 17 April nanti, Nilam dan Hanifa akan mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam grand final LKTIN. Kedua siswi ini merupakan satu dari dua tim yang mewakili DIJ dalam ajang lomba yang diikuti 25 tim SMA/SMK/MAN seluruh Indonesia itu. “Kami berharap dapat masuk tiga besar terbaik pada grand final nanti,” tambah Exwan. (laz/ong)

Sambungan: