RADARJOGJA.CO.ID – Kasus laka tunggal yang melibatkan mobil Isuzu Elf berpenumpang 21 orang di Gunungkidul, Minggu (2/4), menuai sorotan banyak pihak. Ir Bachnas MSc, pengamat transportasi Universitas Islam Indonesia (UII), mencoba menganalisisnya.

Menurut Bachnas, minimnya lampu penerangan jalan di sepanjang rute jalur wisata bukanlah hal vital penyebab kecelakaan tersebut.

“Kondisi jalan di pegunungan yang jaraknya sangat jauh memang tidak memungkinkan dipasang lampu,” kata Bachnas, Senin (3/4).

Bachnas justru lebih menekankan pada hal-hal teknis pada laka yang menewaskan empat penumpang Elf tersebut. Pertama, kondisi fisik si sopir. Kekuatan dan daya tahan tubuh sopir memiliki pengaruh sangat besar terhadap suatu kecelakaan lalu lintas. Itu bisa terjadi jika sopir mengantuk, terlalu capai, atau pandangan mata yang sudah tidak normal.

“Sopir yang mengantuk tentu tidak akan fokus pada kondisi jalan yang mereka lewati. Terlebih pada jam-jam mereka butuh istirahat atau tidur,” katanya.

Kedua, kondisi jalan. Berdasarkan teori geometri, jalan di daerah pegunungan sangat riskan untuk pengguna jalan. Medan yang berkelak-kelok, curam, dan banyak tanjakan serta turunan akan membuat pengendara kesulitan melaluinya. Karena itu dibutuhkan banyak rambu-rambu lalu lintas, baik berisi informasi, peringatan, atau penunjuk arah di titik yang jaraknya cukup jauh dari kawasan rawan.

Artinya, jauh sebelum pengendara kendaraan sampai di titik rawan harus ada papan peringatan yang bisa terbaca dengan jelas. “Pihak terkait harus tahu benar jari-jari tikungan dan tinggi rendahnya elevasi jalan sebelum memasang rambu-rambu peringatan tersebut,” jelas dosen teknik sipil itu.

Ketiga adalah kondisi kendaraan yang dipakai. Performa kendaraan yang digunakan untuk menempuh perjalanan jauh harus dalam kondisi normal dan baik. Baik mesin maupun kelengkapannya. Missal, lampu sein, sabuk pengaman, rem, stir, kopling, dan pernak-pernik lainnya.

Kendati demikian, kapasitas muatan kendaraan menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan sopir. Jumlah penumpang harus sesuai dengan batas yang ditentukan. Dalam kasus ini, mobil yang seharusnya hanya boleh diisi 15 penumpang itu jelas over kapasitas.

“Kelebihan penumpang akan menyebabkan kendaraan mudah oleng atau tidak stabil. Terutama saat melintas di turunan atau tanjakan jalan,”jelas Bachnas. (ita/yog/mar)