RADARJOGJA.CO.ID – Tak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Ini seperti yang terjadi di hari pertama jenjang pendidikan SMA/MA/SMK di Kabupaten Purworejo.

Meski berjalan lancar, di hari pertama Senin ini (3/4), siswa harus bergantian menggunakan komputer untuk UNBK. Hal ini mesti dilakukan karena tak semua sekolah memiliki jumlah komputer sesuai dengan jumlah siswanya.

Sekolah meyakini peserta ujian tidak mengalami kesulitan pengerjaan menggunakan komputer karena telah mendapatkan pelatihan sebelumnya. “Saya kira semua baik-baik saja, khususnya untuk tingkat SMK. Karena kita telah melakukan tiga kali pelatihan ujicoba sebelum UNBK ini digelar,” kata Kepala SMK Negeri 1 Purworejo, Budiyono.

Budiyono yang juga salah satu pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Purworejo ini mengatakan di Purworejo ada 41 SMK yang menggelar UNBK dari total 43 sekolah yang ada. Dua sekolah tidak mengikuti UNBK karena peserta didiknya baru sampai kelas XI.

“Total siswa SMK yang ikut ujian kali ini ada 5.824 siswa se-Kabupaten Purworejo. Dan pelaksanaan di sekolah serentak, beberapa sekolah terpaksa melaksanakan ujian lebih dari 1 penyelenggaraan karena keterbatasan unit komputer yang dimiliki,” imbuh Budi.

Dicontohkan, untuk sekolahnya sendiri hanya memiliki 75 unit komputers, sementara jumlah peserta ujian mencapai 375 siswa. Praktis, dilakukan penggiliran dalam tiga kali pelaksanaan ujian dalam satu hari.

“Kami memiliki tiga lab komputer yakni di lab bahasa, autocad dan listrik. Setiap ruang menampung 25 anak,” tambahnya.

Disampaikannya, pelaksanaan ujian berbasis komputer untuk kabupaten Purworejo di tingkat SMK tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Karena tahun 2016 kemarin hanya ada 3 SMK yang memanfaatkan basis komputer. Ketiga sekolah itu adalah SMKN 1, SMKN 2 dan SMK Pembaharuan.

“Persiapan MKKS sendiri dalam tahun ini, tiga sekolah yang tahun kemarin sudah UNBK memberikan pelatihan kepada sekolah lain agar benar-benar siap melaksanakan,” katanya.

Pelatihan yang diberikan utamanya untuk tenaga proxtor karena mereka memiliki peran vital untuk menyiapkan kelancaran alat selama ujian berlangsung. (udi/eri)