Hakim Sarmin Bertindak saat Keadilan dan Kegilaan Sulit Dibedakan

Setelah sukses mementaskanTangispada 2015, Teater Gandrik kembali menyapa penonton dengan menampilkan Hakim Sarmin. Berikut kemeriahan pentas di Taman Budya Yogyakarta, Kamis (30/3) malam.
VITA WAHYU, Jogja
Seluruh tiket terjual, concert hall pun penuh dengan anak-anak muda yang ingin menyaksikan teater yang disutradarai Djaduk Ferianto itu. “Naskah yang ditulis Agus Noor ini dikemas dalam bentuk baru yang lebih segar, memadukan seni peran dengan nuansa musik‚Äč,” ujarnya.

Cerita Hakim Sarmin sangat relevan dengan situasi Indonesia saat ini. Dalam naskah persoalan digambarkan melingkar-lingkar, dimain-mainkan oleh segelintir orang untuk kepentingannya‚Äč sendiri.
Hakim Sarmin memberi gambaran bahwa hukum bisa digunakan sebagai alat kekuasaan oleh sebagian kelompok yang berkuasa. Sedangkan sebagian besar lainnya hanyalah boneka, “Itulah mengapa manekin berbahan bambu saya hadirkan. Kita hanya akan menjadi boneka di tengah carut-marut hukum ini,” lanjut Djaduk.

Lakon Hakim Sarmin yang diperankan oleh Butet Kartaredjasa ini mengisahkan kehidupan zaman ketika keadilan dan kegilaan tak lagi bisa dibedakan. “Kegilaan dimulai dari pikiran,” begitu kata Hakim Sarmin.
Sementara Dokter Menawi Diparani diperankan oleh Susilo Nugroho dianggap tak lagi bisa mengendalikan para hakim yang menjadi pasien rumah sakit jiwa yang dipimpinnya.
Ketika para hakim itu mulai menggerakkan “Revolusi Keadilan” dengan gayanya Hakim Sarmin berkata “Revolusi selalu diawali oleh mereka yang gila”.

Pementasan yang berlatar belakang rumah sakit jiwa tak henti-hentinya disambut gelak tawa penonton. “Inilah zaman ketika kegilaan sudah menjadi tren. Kalau tidak gila malah dianggap jadul kurang gaul. Meskipun langit runtuh kegilaan harus ditegakkan”. Itulah sepenggal dialog yang diucapkan Hakim Sarmin yang mengundang gerrrrr penonton.

Bagi sang penulis naskah sendiri, pentas teater ini memang mengandung banyak unsur humor politik. “Ini critical discourse. Lewat humor kita diingatkan untuk mengoreksi dan menata kembali hal-hal yang kurang patut,” ungkap Agus Noor.(yog/ong)