RADARJGOJA.CO.ID – JOGJA– Air menjadi sumber kehidupan. Tanpa air kehidupan manusia dapat terancam. Karena itu pemanfaatan air sebagai kebutuhan primer bagi kehidupan semua makhluk di bumi harus bijaksana.

“Masyarakat harus tepat dalam mengelola air. Sering kali sumber daya air diperlakukan sebagai sumber mineral sehingga dieksploitasi besar-besaran tanpa memperhatikan konsep pelestariannya,” ingat Penjabat Sekprov DIJ Rani Sjamsinarsi saat Peringatan Hari Air Sedunia ke-25 tingkat DIJ yang dipusatkan di Lembung Langensari Klitren, Gondokusuman, Kota Jogja kemarin (30/3).

Mengelola dan melestarikan air, lanjut Rani, bisa dimulai dari hal sepele. Misalnya saat menikmati air mineral dalam kemasan harus dibiasakan diminum hingga habis. “Jangan pernah sisakan kalau minum air mineral,” ajaknya.
Rani menambahkan, masalah pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya air adalah kekeringan di musim kemarau dan banjir saat musim hujan. Kondisi itu diperparah dengan terjadinya persaingan dan perebutan air antara daerah hulu dan hilir .

Di bagian lain, pertumbuhan dan aktivitas ekonomi mengakibatkan peningkatan eksplotasi sumber daya alam yang berdampak terjadinya kerusakan alam. Termasuk kerusakan sumber daya air.

“Perlu adanya pemikiran untuk mempertimbangkan kelestarian sumber daya air. Salah satunya dengan membangun embung,” ujar Rani yang sehari-hari menjabat kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan ESDM DIJ ini.

Keberadaan embung seperti di Langensari, menjadi bagian dari upaya pemanenan air. Ini sesuai dengan ekosistem tadah hujan di lahan kering dengan intensitas dan distribusi hujan tidak merata, seperti di Kota Jogja.

“Embung dapat menahan kelebihan air pada musim penghujan,” jelasnya.

Senada, Penjabat Wali Kota Jogja Sulistiyo mengatakan pentingnya pembaruan komitmen memanfaatkan dan mengelola air sebagai anugerah agar tidak mendatangkan musibah.

Menurut dia, peringatan Hari Air Sedunia hendaknya menjadi momentum sekaligus penanda pentingnya kesadaran terhadap krisis air secara global.

“Kita harus terus bersyukur sumber daya air tidak ternilai harganya sebagai unsur tak terpisahkan dalam kehidupan setiap insan manusia,” ungkap pejabat asal Purwadadi, Grobogan ini.

Pemkot Jogja, lanjut Sulistiyo, menjalankan tiga prioritas mengelola dan menyelamatkan air. Konservasi sumber daya air, peningkatan kualitas sumber daya air, dan pengelolaan air secara terpadu berbasis partisipasi masyarakat.

Satu langkah kecil bila dilakukan secara kontinyu membawa manfaat bagi ketersediaan air di muka bumi. “Setiap langkah menyelamatka setetes air bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang,” ajaknya.
Setelah memberikan sambutan, Rani dan Sulistiyo berkesempatan menaburkan bibit ikan di dasar embung Langensari. Usai seremonial, acara dilanjutkan dengan sarasehan.

Dosen UGM Agus Mulyono mengingatkan pentingnya reformasi konsep membagun kota sebagai daerah aliran sungai (DAS). “Dengan konsep kota sebagai DAS maka pengembangan kota dilakukan terencana sehingga bukan menjadi beban lingkungan, tapi menyelesaikan lingkungan,” kata Agus.

Gagasan Agus Mulyono itu diapresiasi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Jogja Agus Tri Haryono. Sejak 2010, pemkot telah mengembangkan program satu juta biopori. Program itu baru berhasil di lingkungan sekolah dan mengalami kendala di kawasan permukiman. “Kami juga kedepankan air hujan harus ditangkap dulu jangan langsung ke sungai,” ucapnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUP dan ESDM DIJ Yohannes Wibisono setuju pengelolaan dan penyelamatan air tidak perlu muluk-muluk. “Cukup dimulai dari hal sederhana dan sepele seperti dikatakan Ibu Penjabat Sekprov,” sarannya. (kus/yog/ong)