RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Cuaca ekstrem yang mengakibatkan musim hujan berlangsung panjang juga berdampak pada penyebaran penyakit leptospirosis. Dibanding tahun lalu, total hanya ditemukan 11 kasus dan 2 orang meninggal. Sedangkan dari awal tahun hingga Maret 2017 ini sudah ditemukan 71 kasus dan 16 orang meninggal.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan DIJ Elvy Effendi mengatakan, pihaknya secara terus menerus melakukan pencegahan dengan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat.

“Kami memfasilitasi yang tidak bisa dipenuhi kabupaten dan kota. Alat tes leptospira masih ada di kabupaten dan kota, tetapi tidak di puskesmas,” ujarnya kemarin (28/3).

Peningkatan kasus leptospirosis di tahun ini, menurutnya, selain faktor cuaca, juga kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penyakit ini. Dengan begitu, penanganan terlambat sering terjadi yang mengakibatkan korban jiwa.

Data hingga Maret 2017 ini tercata ada 38 kasus di Gunungkidul dengan 12 orang meninggal dunia. Di Bantul ada 13 kasus dengan satu orang meninggal dunia, Kulonprogo 10 kasus dengan dua orang meninggal. Sedangkan di Sleman 9 kasus dengan satu orang meninggal.

Kepala Dinas Kesehatan DIJ Pembajun Setyaningastutie mengimbau masyarakat terutama yang tinggal dekat dengan area persawahan agar lebih berhati-hati dan menjaga kebersihan.

“Kalau ke sawah menggunakan alas kaki, kalau ada tikus mati segera dikubur, sesuai prosedur yang ada,” ujarnya.
Pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian untuk mencari solusi memberantas hama tikus. Sebab, leptospirosis juga dapat menyerang manusia melalui kontak langsung dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi pindal atau kotoran tikus.

“Siapa saja bisa kena pindal itu, penyebaran dari air masuk ke tubuh melalui luka. Jadi bukan hanya petani yang harus waspada,” jelasnya. (dya/ila/ong)