RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Meski hujan rintik-rintik dan padatnya masyarakat di sepanjang Jalan Malioboro, pawai gelar seni ogoh-ogoh tetap berlangsung meriah kemarin (25/3). Total ada 46 kelompok yang ikut memeriahkan pawai menjelang perayaan Hari Raya Nyepi itu.

Meski identik dengan Bali, pawai ogoh-ogoh di Jogja kali ini diikuti oleh kelompok dari berbagai asrama daerah yang ada di DIJ. Sehingga karakter ogoh-ogoh yang dibawakan pun beragam. Hal itu sesuai dengan tema Nyepi tahun ini, “Catur Brata pe-Nyepian memperkuat toleransi kebhinekaan berbangsa bernegosiasi demi keutuhan NKRI”.

“Melalui pawai budaya, umat Hindu di Jogja menyampaikan pesan agar umat beragama di seluruh Indonesia bisa tetap menjaga kerukunan dan keharmonisan,” ujar Sekretaris Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jogja I Wayan Werdhi Yasa.

Hal itu pula yang menjadikan pawai ogoh-ogoh di Jogja berbeda dengan daerah asalnya di Bali. Selain komunitas ogoh-ogoh di DIJ, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Daerah (IKPMD) dari Aceh hingga Papua diajak ikut serta dengan menampilkan berbagai bentuk, seperti buta, hewan hingga raksasa.

Replika berbagai bentuk itu diarak dan digoyang-goyang. “Ogoh-ogoh itu artinya patung raksasa yang digoyang-goyang,” jelasnya.

Wayan Werdhi menambahkan, ogoh-ogoh jelang Nyepi sendiri awalnya merupakan kegiatan atraksi budaya untuk menarik wisatawan yang mulai digelar sejak 1984. Karena dinilai sukses menarik wisatawan, akhirnya pada 1990-an banyak kampung di Bali yang juga menggelar ogoh-ogoh jelang Nyepi. “Akhirnya dikaitkan Nyepi dengan simbol pembersihan jelang tahun baru Saka,” jelasnya.

Selain itu Malioboro, pawai ogoh-ogoh kemarin juga berlangsung di Sleman, yakni sepanjang Jalan Monjali. Kegiatan ini turut melibatkan lintas komunitas yang ada di Sleman. Terlihat dari ogoh-ogoh yang diarak, tidak hanya ciri khas Bali.

Ketua Parisada Hindu Darma Sleman Anak Agung Alit Mertayasa berharap kegiatan ini dapat terus lestari. Selain sebagai kegiatan keagamaan, juga wujud kerukunan antarumat beragama di Sleman. Terbukti antusiasme peserta pawai maupun warga sangat tinggi.

“Mewakili umat Hindu di Sleman mengucapkan terima kasih karena dukungannya sangat besar. Kirab budaya ini tidak hanya wujud dari persembahan upacara Nyepi, tapi pengikat kententeraman dan guyub rukun,” ujarnya kemarin (25/3).

Prosesi ogoh-ogoh sendiri merupakan rangkaian perayaan menyambut Nyepi. Puncak dari kegiatan ini adalah Tawur Kesanga yang terpusat di Candi Prambanan, Senin mendatang (27/3). Berlanjut tapa Catur Brata Penyepian, Selasa (28/3).

Bupati Sleman Sri Purnomo menyambut positif perayaan Nyepi di Sleman. Menurutnya, kegiatan ini bukti bahwa kerukunan antarumar beragama di Sleman sangat tinggi. Keterlibatan berbagai komunitas untuk memeriahkan pawai ogoh-ogoh juga patut diacungi jempol.

Kirab melibatkan 20 ogoh-ogoh, 14 berasal dari komunitas budaya Sleman dan sisanya dari Pemprov Bali. Sesampai di jembatan, rombongan bertemu kelompok kirab ogoh-ogoh dari Kota Jogja. Selanjutnya meneruskan perjalanan ke Malioboro, Titik Nol, dan berakhir di Alun-Alun Utara. (pra/dwi/laz/ong)