RADARJOGJA.CO.IDMenyebar kabar harus bijak, jangan menyebar berita bohong. Justru akan merepotkan diri sendiri.

Contohnya dialami guru Bimbingan dan Konseling SMP 1 Kokap Sukirdja. Dianggap menyebarkan berita bohong, dia disidang warga Desa Kalirejo dan mendapatkan sanksi sosial di Balai Dusun Sengir kemarin.

Sukirdja diminta bertanggung jawab kepada puluhan warga dan tokoh desa, kepala sekolah, dan kepolisian setempat. Warga menuntut Sukirdja meminta maaf atas kelakuannya menyebarkan kabar bohong tanpa bukti dan telah membawa keresahan bagi warga.

Hasil pertemuan itu, warga bersepakat tidak akan meneruskan persoalan itu ke ranah hukum. Namun, pelaku diminta meminta maaf secara langsung dan melalui media massa selama tiga kali berturut-turut setiap Senin serta memberi bantuan lampu penerangan jalan dusun setempat.

Kepala Desa Kalirejo Lana mengatakan kabar bohong yang disebarkan pelaku meresahkan warga. Tidak hanya masyarakat di Kalirejo, tetapi juga pejabat desa dan warga perantauan.

“Warga Kalirejo di perantauan gelisah dan risau dengan kabar itu. Warga di Sengir hanya 84 rumah tapi dalam kabar itu disebutkan 76 rumah yang terkena bencana. Warga khawatir rumah dan keluarganya ikut terkena bencana,” kata Lana.

Perkara itu bermula ketika Sukirdja mengunggah pesan ke Whatsapp siswa SMP 1 Kokap, 18 Maret 2017. Pesan itu berisi kabar di Pedukuhan Sengir terjadi tanah longsor mengakibatkan 76 rumah rusak, 9 orang meninggal, 32 orang luka-luka, 39 orang belum ditemukan, dan 247 orang warga harus mengungsi.

Kabar itu menimbulkan keresahan warga Kalirejo. Kabar itu dikonfirmasikan dalam komunikasi radio Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo dengan komunitas relawan kebencanaan setempat, termasuk oleh para anggota komunitas siaga bencana Kalirejo (Sibejo).

Warga berusaha menelusuri sumber berita tersebut dan mengonfrontasi Sukirdja. Dia mengaku mendapat kabar itu dari kawannya bernama Ibu Rollis yang disebutnya berdomisili di Kaliagung, Sentolo.

Setelah dikonfirmasi, Ibu Rollis menyanggupi datang saat sidang di Balai Dusun dan mengklarifikasi kabar tersebut. Namun ternyata dia mangkir dari pertemuan.

Motivasi Sukirdja menyebar kabar tersebut untuk mengonfirmasi kebenaran kabar tersebut. Apabila benar, dia bisa segera memberikan bantuan. Apalagi banyak siswanya yang berasal dari Sengir.

Sukirdja mengaku tak punya niat membuat keresahan dan tidak melakukan rekayasa atas pesan tersebut. Dia hanya mendapatkan pesan itu dari kawannya.

“Dalam pesan di grup itu juga saya cantumkan pertanyaan apakah kabar itu benar. Tidak mungkin secara sengaja saya membuat kabar negatif. Setelah terkonfirmasi kabar itu bohong, saya juga sampaikan pesan susulan di grup,” ujar Sukirdja.

Namun dia menerima keputusan dan siap melaksanakan permintaan warga. Dia menyesali perbuatannya karena membawa keresahan di masyarakat Kalirejo.

Kapolsek Kokap AKP Satrio Arif Wibowo menyebut peristiwa ini harus menjadi pelajaran semua. Dia mengimbau warga selektif menyebarkan kabar. Melakukan kroscek ketika mendapatkan informasi dan jangan langsung meneruskan di medsos. (tom/iwa/mar)