RADARJOGJA.CO.ID – Komisi VII DPR RI mendatangi proyek pengolahan pasir besi Karangwuni, Wates kemarin. Mereka mendengarkan penjelasan perkembangan proyek pasir besi ini.

Rombongan dipimpin Ketua Panja Minerba Syaikhul Islam Ali. Kedatangan mereka didampingi Presdir PT Jiga Magasa Iron (JMI) Hendra Surya.

Syaikhul mengatakan dari ribuan lahan yang ada sudah diserahkan kepada perusahaan untuk dikelola menjadi tambang. DPR ingin memastikan apakah izin yang diberikan kepada PT JMI sudah digunakan atau belum.

“Keterangannya tadi, masih ada masalah sertifikasi lahan, rencana pembangunan smelter tapi prosesnya belum dimulai. Jika bisa menciptakan pasir besi untuk konsumsi nasional kami dukung,” kata Syaikhul.

Ada tenggat waktu untuk operasionalisasi. Jika lama dan tidak bisa direalisasi maka pilihannya adalah penertiban.

“Kami berencana menertibkan izin-izin yang sudah diberikan. Kalau tidak segera difungsikan akan kami tertibkan,” kata Syaikhul.

Izin sebenarnya sudah diberikan akhir tahun lalu. Semua lahan termasuk kontrak karya seharusnya sudah selesai awal 2017.

“Kedatangan kami juga memastikan itu, termasuk kinerja ESDM bagaimana? Karena selama ini kami hanya menerima laporan dari ESDM,” kata Syaikhul.

Berdasarkan laporan, ada beberapa perusahaan yang belum tertib. Jangan sampai izin-izin tambang sudah diberikan, namun mangkrak.

“Karena kalau begitu kontra-produktif, tidak bisa memberikan manfaat. Karena tambang seharusnya menjadi berkah bagi masyarakat, bisa meningkatkan ekonomi,” kata Syaikhul.

Hendra Surya mengatakan kedatangan Komisi VII, menjadi pemacu semangat. “Smelter di Kulonprogo akan menjadi yang pertama di Indonesia. Tentu akan menjadi kebanggaan Indonesia,” ujar Hendra.

Kendala selama tiga tahun terakhir yakni isu sertifikasi tanah yang masih proses penyelesaian. “Bisa dikatakan tinggal menunggu waktu,” kata Hendra.

Proyek pasir besi di Karangwuni membutuhkan lahan 168 hektare. Seluas 50 hektare sudah masuk proses sertifikasi tahap pertama.

“Dalam waktu satu hingga dua bulan mudah-mudahan sudah selesai. Insyaallah sekitar enam bulan operasi,” kata Hendra.

Rencananya, tahap pertama pembangunan smelter kapasitas produksi 100 ribu ton. Secara berjenjang ditingkatkan menjadi 300 ribu ton sampai satu juta ton. Total investasi tahap awal estimasi sekitar USD 7,5 juta.

PT JMI adalah perusahaan penambangan pasir besi yang terintegrasi dengan pengolahan sampai menjadi pig iron. PT JMI memiliki hak menambang berupa kontrak karya dengan luas konsesi 2.977 hektare. (tom/iwa/mar)