RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Meski pencantuman saldo rekening Rp 25 juta dibatalkan, Kantor Imigrasi Kelas I Jogjakarta tetap memperketat pembuatan paspor. Langkah itu ditempuh untuk mencegah tindak penculikan dan perdagangan orang.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Jogjakarta Didik Heru Praseno menyebut, selama Maret ini ada tujuh orang yang ditolak dalam pembuatan paspor. Penolakan itu belum masuk pada substansi wawancara mengenai tabungan sebesar Rp 25 juta.
“Ditolak karena ada ketidakjelasan tujuan ke luar negeri. Hal tersebut perlu kami waspadai demi antisipasi perdagangan maupun pencurian orang,” kata Didik, kemarin (23/3).

Dia menyebut, kerap kali menemukan perbedaan identitas antara akta kelahiran dan kartu tanda penduduk. Hal itu memunculkan kecurigaan adanya dugaan pemalsuan identitas.

Guna mengetahui identitas yang digunakan palsu, jelasnya, harus dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Namun, melihat adanya persyaratan yang mencurigan pihak imigrasi berhak menolak permohonan. “Kalau persyaratan saja sudah dipalsukan berarti ada niat tidak baik,” jelasnya.

Di Jogjakarta, jelasnya, setiap harinya rata-rata terdapat 250 pemohon paspor. Mayoritas pemohon paspor untuk keperluan umrah.

Selain melakukan antisipasi perdagangan dan penculikan, Kantor Imigrasi Jogjakarta juga memperketat pengawasan kepada warga asing yang ada di DIJ. Selama dua bulan ini tercatat sebanyak 17.101 orang asing orang melalui Bandara Adisutjipto. Sedangkan yang meninggalkan Jogjakarta sebanyak 17.277 orang asing.

Kepala Sub Seksi Pemberitahuan Status Kewarganegaraan Kantor Imigrasi Kelas I Jogjakarta Wawan Ajaryoni mengatakan, pengawasan orang asing di DIJ dilakukan dengan sosialisasi ke kampus-kampus dan biro wisata. Mengingat, Jogjakarta merupakan salah satu tujuan wisata dan pendidikan.”Jogjakarta menjadi tujuan mahasiswa asing untuk kuliah,” kata Wawan. (bhn/ila/ong)