RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Data kasus pelanggaran lalu lintas (lalin) yang terjaring Operasi Progo 2017 sangatlah fantastis. Mencapai 17.484 kasus hanya dalam tempo tiga minggu, 1-21 Maret.

Terjadi lonjakan luar biasa dibanding hasil Operasi Progo 2016, yang hanya mencatat sedikitnya 1.400 kasus.
Hasil operasi kali ini menunjukkan betapa besar masyarakat yang tak sadar akan peraturan lalu lintas. Kendati demikian, perbandingan hasil operasi pada 2016 dan 2017 tidaklah apple to apple. Sebab, data 2016 berupa kasus pelanggaran yang ditindak dengan tilang.

Sedangkan data sejak awal Maret ini merupakan keseluruhan pelanggaran yang tercatat. Artinya, tak semua pelanggar ditilang. Sebagian besar dikategorikan pelanggaran ringan, sehingga sanksi hukumnya hanya berupa teguran. Misalnya, pengendara motor yang lupa mengaitkan tali pengaman helm atau alpa menyalakan lampu sein.

Kabag Binops, Ditlantas, Polda DIJ AKBP Sutarno merinci, jumlah pengendara sepeda motor yang melanggar aturan lalu lintas sebanyak 14.827 orang. “Khusus pelanggaran pengendara motor terjadi lonjakan 1.197 persen. Tahun lalu pelanggaran kendaraan sepeda motor sebanyak 1.143,” jelasnya.

Begitu pula kendaraan mobil penumpang. Meningkat 812 persen. Dari 241 perkara di 2016 menjadi 2.197 tahun ini. Sedangkan pelanggaran angkutan bus meroket 1.500 persen dari hanya 6 kasus tahun lalu menjadi 96 perkara di 2017.

Tingkat pelanggaran masih berpotensi bertambah mengingat masih ada lebih dari sembilan bulan hingga akhir tahun ini.
“Pelanggarannya cukup beranekaragam mulai dari spion hanya satu, tidak ada kelengakapan surat, hingga tidak mengenakan helm. Untuk mobil biasanya tidak mengenakan sabuk pengaman,”ungkapnya.

Disebutkan, khusus pelanggar lalu lintas menggunakan sepeda motor didominasi oleh pekerja swasta (10 ribu orang) dan mahasiswa (4 ribu). “Memang jam-jam operasi kami pada saat aktivitas mahasiswa dan pekerja. Maka tak heran yang terjaring kelompok itu,” kata perwira menengah Polri itu.

Operasi Progo sengaja lebih sering digelar di area kampus. Itu lantaran banyaknya mahasiswa yang sengaja melanggar aturan. Terutama soal pengenaan helm. Menurut Sutarno, mahasiswa cenderung menyepelekan helm karena jarak antara kampus dan tempat tinggal mereka cukup dekat. Bahkan, tak sedikit mahasiswa menggunakan handphone saat berkendara.(bhn/yog/ong)