RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN– Kesibukan para arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIJ bertambah. Selain pemeliharaan rutin candi-candi kuno, mereka kini harus meneliti dua benda eksentrik yang diduga sebagai peninggalan purbakala.

Satu di antaranya berbentuk seperti fosil kayu. Benda tersebut diketahui pertama kali oleh Marjono, warga Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul di kawasan perbukitan Naga.

“Ada tujuh bongkahan batu warna kuning yang sekilas memang mirip fosil kayu. Ini sedang kami teliti,” ujar Kasi Perlindungan dan Pemanfaatan Wahyu Astuti kemarin (23/3).

Seperti temuan benda kuno lainnya, penelitian dilakukan di laboratorium khusus BPCB. Proses penelitian diawali dengan membersihkan bongkahan fosil tersebut menggunakan air dan sikat. “Kedepan kami akan bekerja sama dengan balai arkeologi untuk menentukan apakah temuan ini termasuk fosil atau tidak,” lanjut Astuti sambil menunjukkan fosil batu yang sedang ditelitinya.

Sementara benda kuno lain yang diteliti berupa bongkahan batu kali berukuran tebal 22 sentimeter dengan panjang 40 sentimeter. Batu berelief itu ditemukan secara tidak sengaja oleh Sutrisno, warga Ponegaran, Jambitan, Banguntapan, Bantul saat menggali tanah untuk membuat septic tank di halaman rumah Sumirah.

Dikatakan, dari gambar dan corak reliefnya, Astuti meyakini batu kali itu termasuk benda purbakala yang merupakan rangkaian sebuah candi. Meskipun sejauh ini belum pernah ada temuan candi di wilayah Banguntapan.

Kendati demikian, beberapa tahun lalu BPCB pernah meneltik batu gilang di daerah Batureno. Batu gilang itulah yang menguatkan analisis adanya keterkaitan bongkahan batu kali tersebut dengan candi kuno yang kemungkinan pernah berdiri di wilayah Bantul.(sky/yog/ong)