RADARJOGJA.CO.ID Nelayan di Pantai Selatan Kulonprogo memilih libur melaut sepekan terakhir. Penyebabnya adalah cuaca buruk yang ditandi dengan tiupan angin kencang dan gelombang tinggi. Mereka tidak mau ambil risiko dan memilih beraktivitas lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Awal bulan lalu kami masih melaut, namun sepekankan terakhir cuaca tidak bersahabat. Gelombang terlalu tinggi, hasil tangkapannya minim,” kata salah satu Nelayan Pantai Bugel, Panjatan, Ngadiyo, 58.

Awal pekan ini ketinggian ombak bisa mencapai delapan meter. Jika dipaksakan turun, perahu bisa terbalik dan pecah. “Di sini ada 100 nelayan, tidak satupun yang melaut. Selain sepi ikan, ombaknya tinggi,” jelasnya.

Seandainya bisa melaut pun justru akan menelan kerugian. Hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya operasional. “Sekali berangkat Rp 350 ribu, sementara hasil tangkapan hanya beberapa kilogram, itupun ikan kathing yang harga jualnya murah,” kata Ngadiyo.

Nelayan Karangwuni Winarto mengatakan nelayan memilih alih profesi sementara, yakni bertani cabai. “Sebenarnya hasilnya jauh lebih banyak melaut, tapi kalau pas musim bawal dan lobster. Arus kencang sebetulnya lobster keluar, tapi gelombangnya tinggi sangat berisiko,” kata Winarto.

Winarno sudah empat hari tidak melaut. Ombak di laut selatan mendadak meninggi sepekan terakhir. Padahal beberapa hari sebelumnya landai. Gelombangnya kecil dan bagus untuk mencari ikan.

Nelayan Pantai Congot Temon Surjani, 55, mengungkapkan hal senada, Selasa (21/3) malam. Gelombang tinggi menghantam pantai dan masuk ke daratan hingga menyeret perahu-perahu nelayan yang bersauh. Nelayan berlarian menyelamatkan kapal agar tidak terbawa air ke tengah laut.

“Sampai sekarang kami tidak berani melaut. Selain bertani kami sementara jadi buruh bangunan. Karena kebetulan di wilayah kami banyak warga yang membangun rumah akibat terdampak bandara,” ungkapnya. (tom/iwa/mar)