RADARJOGJA.CO.ID – Dinas Pertanian Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DPPKP) cukup kelabakan menghadapi mahalnya harga cabai belakangan ini. Agar dampak kelangkaan salah satu bumbu dapur ini tak mencekik, DPPKP akhirnya merumuskan langkah antisipasi. Yakni, menggencarkan program penanaman cabai di setiap pekarangan rumah.

Kepala DPPKP Bantul Pulung Haryadi menyebut ada sepuluh hektare lahan pekarangan yang dibiarkan menganggur.Padahal, pekarangan bisa menghasilkan nilai ekonomi menjanjikan andai digarap serius.

“Setidaknya bisa mencukupi kebutuhan sendiri andai ditanami cabai,” jelas Pulung di sela penyerahan bibit cabai di Sewon, Selasa (21/3).

Pulung tak menampik produksi cabai Kabupaten Bantul cukup tinggi. Setidaknya mencapai 200 ton setiap tahunnya. Kendati begitu, kondisi ini berbanding lurus dengan kebutuhan cabai di pasaran. Bahkan, sebagian pedagang di sejumlah pasar tradisional di Bumi Projo Tamansari mendatangkannya dari luar daerah untuk memenuhi permintaan konsumen.

“Penduduk Bantul sekitar 900 ribu jiwa. Asumsinya, setiap kepala butuh dua biji cabai,” ucapnya.
Agar program ini menuai hasil maksimal, lanjut Pulung, DPPKP secara bertahap bakal menggandeng 260 kelompok wanita tani (KWT) yang tersebar di seluruh penjuru wilayah Bantul. Hanya, untuk tahap pertama DPPKP membidik 10 KWT.

Masing-masing KWT dibantu seribu bibit cabai. “Agar nanti tidak ketergantungan dengan pasar,” sebutnya.

Kabid Ketahanan Pangan DPPKP Bantul Sri Widada mengungkapkan hal senada. Menurutnya, DPPKP memang memiliki sejumlah program peningkatan kapasitas KWT. Program ini salah satunya dialokasikan untuk program kampanye penanaman cabai.

“Rp 200 juta yang kami anggarkan untuk peningkatan kapasitas,” tambahnya. (zam/ila)