RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Simulasi akhir Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) berjalan dengan lancar. Simulasi yang digelar oleh Puspendik Kemendikbud RI hampir 100 persen menggambarkan suasana ujian. Mulai dari login, jenis dan bentuk soal hingga teknis pengerjaannya.

Kepala SMPN 1 Sleman Nurul Wachidah mengungkapkan sistem UNBK sudah ideal. Padahal,saat awal simulasi pertama sempat terkendala server. Selain itu juga tidak bisa melakukan sinkronisasi dengan server pusat. Bahkan koneksi internet tidak stabil. “Simulasi ketiga sudah siap untuk penyelenggaraan ujian. Hanya saja kemungkinan akan menambah daya listrik. Agar lebih stabil untuk menyuplai listrik di dua ruang ujian,” ujarnya kemarin (20/3).

Untuk mendukung ujian, SMPN 1 Sleman menggunakan empat server. Dua server sebagai server utama dan sisanya sebagai cadangan. Sekolah ini juga menyiapkan 80 komputer untuk 224 peserta UNBK. Demi kelancaran, UNBK dibagi menjadi tiga sesi. “Tahun ini perdana ikut UNBK tapi optimistis bisa mandiri. Rencana juga akan menyiagakan genset untuk jaga-jaga,” katanya.

Dalam simulasi ini, siswa dikondisikan layaknya UNBK resmi. Salah satu peserta ujian Aditya Krisna Saputra lebih memilih UNBK. Menurutnya ujian dengan komputer ini lebih mudah dilakoni.

Salah satu keunggulan menurutnya adalah bisa mengganti jawaban. Beda dengan ujian kertas, penggantian jawaban tinggal klik. Sementara ujian kertas harus dihapus. Hal ini akan menjadi masalah jika jawaban tidak dihapus dengan bersih. “Kertas pakai pensil 2B, kalau dihapus kertasnya bisa kotor. Bedanya kalau ujian computer tidak bisa corat-coret. Tapi sama pengawas dikasih kertas untuk corat-coret, terutama untuk yang hitung-hitungan,” kata siswa kelas IX D ini.

Kepala Dinas Pendidikan Arif Haryono turut memantau simulasi ini. Dalam kesempatan ini dia meminta sekolah terus mendampingi. Terlebih UNBK tergolong perdana di Sleman. Bahkan tahun ini terjadi lonjakan sekolah peserta UNBK menjadi 135 SMP/MTs dari 9 SMP/MTs.

Menurutnya, yang paling utama dari penyelenggaraan UNBK ini adalah siswa peka komputer. Artinya siswa peserta UNBK harus terbiasa terhadap komputer. Sehingga pelatihan dan pendampingan secara berkala wajib terus dilakukan. “Sekolah bisa menggelar simulasi mandiri di luar jadwal resmi. Jadi, harus familiar, jangan sampai siswa grogi dan tidak lancar mengerjakan ujiannya. Selain pintar secara akademis juga harus mahir mengoperasikan komputer,” pesannya. (dwi/din/ong)