RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Beredarnya video skip chal-lenge di jejaring media sosial (medsos) turut mematik keprihatinan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Arif Haryono. Aksi ini telah menjadi viral. Bahkan dalam video-video yang diung-gah di medsos juga ada yang masih berstatus siswa sekolah dasar (SD).

Skip challenge atau pass out challenge adalah tantangan pingsan sesaat. Skip challenge ini dilakukan dengan mene-kan dada sehingga menghambat per-napasan dan membuat pingsan seke-tika. Skip challenge berawal dari tren remaja luar negeri.

Di kalangan remaja, beragam chal-lenge sering muncul dan diunggah di medsos mereka sebagai bentuk eksis-tensi diri. Misalnya saja ada manekin challenge dan bus challenge yang sem-pat booming di awal tahun ini.

Hanya, dua challenge itu tidak mem-bahayakan. Manekin challenge meru-pakan video yang memperagakan la-yak nya manekin di toko. Sedangkan bus challenge memperagakan gerakan sopir dan penumpang yang sedang berada di dalam bus.

Sedangkan skip challenge ini dinilai membahayakan karena berhubungan pula dengan kesehatan. Saat dada di-tekan dengan kuat akan menghambat pernapasan kemudian menimbulkan kejang dan pingsan sesaat. Pernapasan yang terhambat ini dapat mempenga-ruhi asupan oksigen di otak. Dampaknya dapat menyebabkan kerusakan pada sel otak.

Ahli saraf dari UGM Dr dr Cempaka Thursina, Sp.S (K) menyebutkan, skip challenge merupakan tindakan yang sangat membahayakan. Menekan da-da selama beberapa saat akan me ngura-ngi pasokan oksigen ke otak. Alhasil akan menimbulkan hilangnya kesada-ran maupun kejang.

“Tindakan ini tidak hanya akan me-ng akibatkan kerusakan pada otak, tetapi juga dapat menyebabkan kema-tian,” jelasnya kemarin (19/3).

Cempaka menggambarkan jika kadar oksigen di otak rendah selama 2 hing-ga 3 menit maka otak akan mengalami gangguan. Kerusakan otak ini dalam jangka panjang akan memengaruhi ke mampuan kognitif anak.

Gangguan sel otak juga berdampak pa da gangguan berpikir dan perubahan memori. Bahkan kekurangan oksigen pada otak berimbas terjadinya stroke. Selain itu berbagai penyakit lain se-perti kebutaan, tuli, dan lainnya.

“Kekurangan oksigen pada mata bisa memicu terjadinya kebutaan. Begitu pula di berbagai organ tubuh lainnya, kurangnya suplai oksigen berdampak pada kerusakan saraf-saraf di daerah tersebut,” jelas dokter spesialis saraf RSUP Dr Sardjito ini.

Dampak lain skip challenge ini adalah retak atau patahnya tulang rusuk. Ini karena pelaku menekan secara kuat dada korban. Tulang iga yang retak bisa menusuk paru-paru dan menga-kibatkan luka dalam.

“Sensasinya adalah kejang-kejang dan siuman dari trauma. Tapi jika dilakukan berulang akan berdampak serius bagi kesehatan karenanya harus dihentikan,” tegasnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Arif Haryono mengungkapkan, saat ini belum ada laporan kejadian akibat skip challenge ini di Sleman. “Tapi, saya meminta sekolah waspada,” ujarnya dihubungi kemarin.

Terlebih saat memasuki jam istirahat siswa. Arif meminta ada guru yang me-ngawasi aktivitas siswa-siswanya. “Ka-lau lihat videonya, anak-anak melaku-kan di kelas hingga selasar sekolah. Guru harus aktif mengawasi karena per mainan ini sangat berbahaya,” te-gasnya.

Arif menegaskan, permainan ini ter-golong bentuk kekerasan. Walau tu-juan awal permainan ini bukan untuk menyakiti, tapi termasuk mencederai. Secara tidak langsung akan membuat organ tubuh anak cedera.

“Skip challenge ini masuk dalam ra-nah kekerasan. Padahal kami sedang mengkampanyekan Sekolah Ramah Anak (SRA). Salah satu tujuannya peng-hapusan segala tindak kekerasan ke-pada siswa. Baik itu oleh siswa, guru, dan lingkungan sekolah,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, SRA itu konsepnya sebagai proses pendidikan karakter. Kalau terbukti ada kasus tersebut di sekolah, maka harus ada tindakan te-gas. “Sanksi merupakan wewenang ma sing-masing sekolah,” ujarnya. (dwi/ila/ong)