Perjanjian Giyanti dan Pembagian Bumi Mataram (6)

Oleh: Kusno S Utomo
VEREENIGDE Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda didirikan pada 20 Maret 1602. Jika masih eksis, kemarin 20 Maret 2017 merupakan ulang tahunnya ke-415 VOC.

Kongsi dagang Belanda itu bubar pada 31 Desember 1799. Salah satu karya monumentalnya adalah “sukses” memecah belah Kerajaan Mataram lewat Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Bumi Mataram terbagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.

Setelah 197 tahun beroperasi, VOC bangkrut gara-gara didera masalah keuangan. Sejumlah pejabatnya terlibat korupsi yang berujung pada meruginya perusahaan dagang tersebut.

Petinggi Kompeni juga kerap terlibat tindakan curang seperti menerima gratifikasi atau hadiah. Suap tak sebatas materi. Namun juga gratifikasi seks seperti diterima Direktur VOC Jawa Utara Nicholas Hartingh.

Kritik terhadap perilaku tak terpuji pejabat VOC itu secara keras dilontarkan Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles. Dia berkuasa lima tahun di Indonesia dari 1811-1816. Sama seperti Hartingh, Raffles juga berhasil melengkapi pecahnya Dinasti Mataram dengan berdirinya Kadipaten Pakualaman pada 17 Maret 1813.

Namun demikian, Raffles punya pandangan sinis terhadap perilaku Hartingh. Kejadiannya saat tentara Inggris menduduki kasultanan pada 20 Juni 1812. Saat itu takhta kasultanan telah beralih dari Hamengku Buwono I ke Hamengku Buwono II.
Raffles mengkritik sikap Hartingh menerima hadiah seorang perempuan usai meneken Perjanjian Giyanti dari Pangeran Mangkubumi. Sindiran itu terungkap dalam buku “Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa”.

Dikisahkan, Sang Raja lalu memilih seorang gadis cantik wangi dari haremnya untuk dihadiahkan kepada Hartingh sebagai tanda persahabatan.

Meski sangat korup, orang Belanda VOC bisa akrab dengan raja-raja Jawa baik dalam persahabatan maupun gaya hidup, yang tidak bisa diterima pendatang baru dari Inggris.

Raffles dan Residen Inggris untuk Jogja John Crawfurd tak pernah memikirkan menerima selir pribumi sebagai hadiah dari Sultan. Apa kata Olivia dan rekan-rekan istri orang Inggrisnya terhadap tindak tak bermoral seperti itu?

Jauh sebelum kritik Raffles itu, perasaan galau dirasakan RM Said atau Pangeran Sambernyawa. Ungkapan itu terlukis dari Babad Nitik Mangkunegara I atau Catatan Harian Prajurit Estri (perempuan) Mangkunegaran.

Perjanjian Giyanti membuat RM Said harus berjuang sendirian menghadapi Belanda. Mertua sekaligus pamannya, Pangeran Mangkubumi menyeberang ke kubu lawan.

Sebelum 13 Februari 1755, Said dan Mangkubumi merupakan sekutu. Kini keadaannya telah berbalik. Sekutu berubah menjadi seteru. Pangeran Sambernyawa menentang keras isi Perjanjian Giyanti. Mataram yang semula utuh harus terbelah.
Sekarang lahir koalisi baru terdiri Hamengku Buwono I, Paku Buwono III, dan VOC. RM Said diposisikan sebagai pemberontak. Pendiri Kadipaten Mangkunegaran itu masuk daftar pencarian orang (DPO) yang harus dilenyapkan. Operasi militer gabungan disiagakan khusus menangkapnya.

Seorang peneliti Zainuddin Fananie pernah mengupas Catatan Harian Mangkunegara I itu. Fananie menunjukkan bagian dari catatan harian yang mendiskripsikan muaknya RM Said melihat Pangeran Mangkubumi setelah Perjanjian Giyanti.

Sebagai balas budinya kepada Belanda karena dinobatkan menjadi raja, Mangkubumi menghadiahkan istrinya sendiri, Raden Ayu Retnasari dari Sukowati, Sragen, kepada VOC. RM Said menyebut Hartingh dengan sebutan Ndoro Deler. Perasaan RM Said diungkapkan dalam tembang berbunyi:

“Kang anama Raden Retnasari, ingkang sangking Pingkol Sukawatya, sareng dipun angkate, marang deler tinandu, Sultan datan saged ningali, sanget ngungun tur merang lan tansah sinamur, Den Retnosari semana sareng mangkat anangis tur niba-tangi….”
Terjemahannya:

Dia bernama Raden Retnasari berasal dari Desa Pingkol Sukawati, Deler segera memondongnya memasukkan dalam tandu. Ketika menyaksikan Sultan hanya berpaling muka saja, agaknya tak tahan untuk melihatnya, dalam hati teramat kecewa dan malu, tapi perasaan tersebut ditutup-tutupinya, ketika tandu diusung, Raden Retnawati menjerit, menangis seakan-akan berusaha melepaskan diri….

VOC bangkrut dua tahun setelah Hamengku Buwono I wafat pada 24 Maret 1792. Adapun Hartingh menjabat sebagai direktur VOC Jawa Utara selama enam tahun dari April 1754 hingga Oktober 1761. Tidak diketahui nasib Hartingh selanjutnya setelah pensiun. (bersambung)