Tilang Pelanggar Lalu Lintas Cukup Pakai Smartphone

Tak ingin terus dianggap suka menerima ‘uang damai’ saat razia kendaraan bermotor, polisi mulai menerapkan tilang online di Jogjakarta. Dengan aplikasi E-Tilang, para pelanggar dimudahkan dalam pembayaran denda.

Heru Pratomo, Jogja
Karena ngeblong lampu merah di Jalan Kusumanegara, Kota Jogja, Rian Aldika Putra diberhentikan polisi lalu lintas tepat di depan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Rabu (15/3). Oleh petugas, Rian yang berboncengan dengan pacarnya segera dibuatkan keterangan tilang.

Saat menjalankan tugasnya, petugas itu tidak mengeluarkan surat tilang. Dia malah mengeluarkan smartphone. Ternyata, di telepon pintarnya itu telah terinstal aplikasi e-Tilang. Praktis, cepat, dan mudah.

Tak lagi corat-coret pakai ballpen, si petugas cukup mengetik pelanggaran lalu lintas yang dilakukan Rian pada smartphone-nya. Lalu mengirimkannya melalui layanan SMS ke nomor handphone pelanggar.

Dalam aplikasi tersebut otomatis muncul pasal pelanggaran yang dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sekaligus nilai denda yang harus dibayarkan.

“Pelanggar tinggal membayar denda melalui ATM atau e-banking, kami siapakan EDC (electronic data capture). Jadi bisa langsung gesek,” ujar Kepala Seksi Penindakan Pelanggaran Ditlantas Polda DIJ Kompol Aris Waluyo.

Di aplikasi e-Tilang, nama pelanggar semula dimasukan dalam tanda warna biru yang berarti belum membayar denda. Nah, setelah denda dibayarkan, warna biru akan berubah menjadi hijau.

Untuk sementara baru Bank BRI yang bekerja sama dalam pengurusan tilang. Pelanggar cukup menunjukkan bukti pembayaran denda dari bank tersebut sebagai sarana untuk mengambil barang bukti, surat izin mengemudi (SIM) atau surat tanda nomor kendaraan (STNK) yang ditahan petugas. “Kalau seperti ini kan petugas di lapangan tidak mungkin bisa menerima uang sama sekali. Karena semua lewat ATM,” ujarnya.

Aplikasi e-Tilang sudah diintegrasikan secara nasional di Korlantas Mabes Polri. Semua denda yang dibayarkan pelanggar otomatis masuk ke kas negara. Dengan e-Tilang Aris optimistis kesan adanya transaksi bawah tangan alias uang damai yang dititipkan ke petugas oleh pelanggar lalu lintas akan hilang.

Selain itu penerapan e-Tilang lebih memudahkan pelanggar yang tidak memiliki waktu jika harus menunggu sidang. Terlebih beberapa pelanggar lalu lintas di Jogjakarta berasal dari luar daerah. “Terutama pelanggar di jalan-jalan nasional. Seperti Jalan Wates atau Jalan Solo,” ungkap Aris.

Sebagai pelanggar, Rian mengaku cukup terbantu dengan sistem tilang online. “Dulu waktu SMA pernah ikut sidang, repot antrenya lama,”katanya.

Karena pelanggaran yang dilakukannya, Rian didenda Rp 60 ribu. Saat itu dia langsung mencari boks ATM untuk transfer denda ke bank yang ditunjuk polisi. “Lebih enak langsung bayar. Tapi ya tidak mau ditilang terus,” ujarnya sambil tertawa.(yog/ong)