RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Ada yang berbeda di objek wisata (obwis) Air Terjun Kedung Pedut, kemarin (15/3). Warga mengenakan busana adat, sesepuh terlihat membawa uba rampe menuju kedung. Kemudian ada salah satu warga yang berenang ke tengah-tengah kolam alami untuk memotong tumpeng.

Ya, warga Pedukuhan Kembang, Jatimulyo, Girimulyo memperingati tahun kedua kemunculan obwis Air Terjun Kedung Pedut di pedukuhan setempat. Ada beberapa rangkaian kegiatan yang dijalankan salah satunya Grebeg Kedung Pedut. Selain untuk promosi wisata, kegiatan ini juga untuk melestarikan budaya warisan leluhur.

“Grebeg ini merupakan bentuk rasa syukur kami kepada Tuhan. Kegiatan ini juga untuk nguri-uri sekaligus ajang promosi wisata. Grebeg ini baru kali pertama digelar dengan konsep acara yang cukup besar,” ucap Dukuh Kembang Sarija di sela kegiatan.

Ada sekitar 150 warga dari tujuh RT di Pedukuhan Kembang yang terlibat dalam kegiatan ini. Sekaligus menjadi bukti keseriusan warga dalam mengembangkan potensi daerah dengan budaya gotong royong.

Selain gerbeg atau kirab bergada, juga ada pementasan Angguk, Wayang Kulit, dan lomba Panjor yang dikemas dalam tema Gebyar Seni Pareanom yang digelar selama dua hari. Puncak acara Grebeg Kedung Kedut juga dikemas sedikit berbeda, prosesi potong tumpeng sengaja dilakukan di tengah kedung.

Selain itu juga ada penanaman beberapa pohon langka penyimpan air dan larungan sesaji, untuk hidangan yang dikemas dalam anjang dibuat oleh perwakilan masing-masing RT. “Ada tujuh tumpeng berikut ingkung, sayuran dan hasil bumi yang disajikan dan dimakan bersama usai doa,” katanya.

Dijelaskan,Kedung Pedut merupakan air terjun yang dilengkapi kolam alami (kedung dalam istilah Jawa) yang tidak pernah surut atau kering setiap tahun. Batu kapur yang tersusun di tebing dan dasar sungai membuat air berwarna hijau toska yang sangat menarik cantik.

Warga berupaya mengolah potensi alam yang ada. Selain itu juga tersiar sejarah lisan tentang kisah Pangeran Diponegoro yang konon pernah tetirah di wilayah ini juga dinilai mampu menggugah daya tarik wisatawan.

Kasi Sejarah Dinas Kebudayaan DIJ,Bambang Marsamtoro menyatakan, pihaknya mendukung pengembangan obwis Kedung Pedut. Sesuai tugas dan fungsi pokok Dinas Kebudayaan yakni mendukung dan melestarikan pengembangan seni budaya di DIJ termasuk di Kulonprogo.

“Kami akan dukung semua budaya yang berkembang, baik kebudayaan Kasultanan-Pakualaman atau dari masyarakat yang lebih dikenal dengan kearifan lokal,” ucapnya.

Menurutnya, dengan diadakan kegiatan serupa, membuat masyarakat fokus dengan apa yang dicita-citakan. Juga tumbuh semangat dan percaya diri serta bisa mengemban tugas secara bertanggung jawab. Sejarah lisan yang berkembang di sini,

Kedung Pedut dulu pernah digunakan Pangeran Diponegoro tetirah merancang strategi melawan penjajah.
Salah satu pengunjung, Muhammad Alam, warga Kulonprogo mengungkapkan, Grebeg Kedung Pedut cukup menarik, dengan kondisi alam yang mendukung ke depan dia yakin akan bisa lebih baik lagi.

“Acaranya seru, semoga ke depan bisa lebih meriah lagi, saya baru kali pertama melihatnya, panoramanya bagus sekali, cuma jalannya yang mungkin masih butuh ditingkatkan,” ungkapnya. (tom/ila/ong)